Ketika Murid Tidak Melupakan Gurunya

Menjadi guru, instruktur, atau pembimbing sering kali tidak langsung terlihat hasilnya. Apa yang diajarkan hari ini mungkin baru terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian.

Saya teringat seorang peserta kursus komputer di LPK Para Informatika Computer (PIC) sekitar tahun 1992. Saat itu komputer masih merupakan barang yang relatif langka. Banyak peserta yang datang dengan rasa penasaran sekaligus kebingungan, termasuk salah satu peserta yang masih terlihat lugu dan belum memahami dunia komputer.

Sebagai instruktur, saya mengajarkan materi sebagaimana biasanya. Tidak pernah terbayang akan menjadi apa para peserta kursus tersebut di masa depan. Setelah kursus selesai, masing-masing melanjutkan perjalanan hidupnya dan saya pun tidak lagi mengetahui perkembangan mereka.

Tahun demi tahun berlalu.

Suatu ketika dalam acara Syawalan di SMKN 1 Bantul, saya bertemu kembali dengan seseorang yang wajahnya terasa tidak asing. Awalnya saya mengira beliau adalah wali murid yang sedang menghadiri acara sekolah. Ternyata saya keliru. Beliau adalah mantan peserta kursus komputer di PIC yang kini telah menjadi seorang ustadz.

Saat itu ada seorang guru yang bertanya kepadanya,

"Lho Pak kok kenal sama Pak Joko?"

Dengan spontan beliau menjawab,

"Pak Joko ini guru saya. Yang ngajari saya bisa komputer ya pak Joko ini"

Mendengar jawaban itu, saya merasa terharu sekaligus bangga. Bukan karena pujian tersebut, melainkan karena setelah sekian lama beliau masih mengingat gurunya.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali bertemu beliau dalam sebuah acara hajatan mantu. Saat itu saya sedang berjabat tangan dengan seorang mantan Kepala Dinas Pendidikan Dasar. Tiba-tiba beliau datang dan menyapa saya dengan hangat.

Mantan Kepala Dinas itu pun bertanya,

"Lho, kok kenal sama Pak Joko?"

Dan lagi-lagi beliau menjawab dengan kalimat yang hampir sama,

"Pak Joko ini dulu guru saya yang mengajari saya bisa komputer."

Saya pun menanggapi dengan bercanda,

"Mas, mbok jangan berlebihan begitu."

Namun beliau menjawab dengan tenang,

"Yah, kenyataannya begitu kok, Pak Joko."

Jawaban sederhana itu sangat membekas di hati saya.

Kini beliau telah berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi hingga jenjang magister. Dari seorang peserta kursus komputer yang dahulu masih bingung menggunakan komputer, beliau tumbuh menjadi seorang akademisi sekaligus tokoh agama yang dihormati masyarakat.

Pengalaman ini mengajarkan kepada saya bahwa seorang guru tidak pernah tahu sejauh mana pengaruh ilmu yang dia berikan. Apa yang tampak sederhana hari ini, bisa menjadi bekal berharga bagi seseorang di masa depan.

Karena itu, jangan pernah meremehkan ilmu yang kita ajarkan, sekecil apa pun. Dan jangan pernah melupakan orang-orang yang pernah membimbing kita dalam perjalanan hidup.

Bagi saya, penghargaan terbesar seorang guru bukanlah piagam atau jabatan, melainkan ketika muridnya masih mengingat dan menghargai jasa gurunya meskipun puluhan tahun telah berlalu.

Baca juga :

Bagikan artikel ini ke:



Penulis:
Mujiyoko, B.Sc.
- Pendiri LPK Para Informatika Computer (1990-2007)
- Penulis & Edukator (2003-sekarang)
- Founder Para Informatika News (www.parainformatika.com) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

💪 Semangat di Masa Pensiun – Antara Rutinitas yang Berhenti dan Hidup yang Baru Dimulai

Nyadran di Dusun Pepe RT 01 Digelar, Warga Antusias Ikuti Doa Bersama

SISA KUOTANYA KEMANA ?