3 Ilmu Emas dari Kebun Kecil Bantul: Daun Srikaya, Cabai Busuk, dan Sabar 7 Tahun

Malam ini saya belajar lagi dari kebun.

Bukan dari buku. Bukan pula dari YouTube. Kali ini gurunya adalah pengalaman langsung di tanah sisa bangunan Rumah. Di tanah sisa bangunan itu saya tanami pohon jambu Madudeli, Mangga Madu, Durian Musangking, Srikaya, Jambu Dalhari, dan Mangga Miyazaki. Semua sudah berbuah kecuali Durian Musangking yang baru berumur 5 bulan.

Ada tiga "ilmu emas" yang saya dapat dari kebun kecil saya. Kelihatannya sederhana, tetapi hasil yang saya rasakan cukup luar biasa.

Saya bagikan di sini. Siapa tahu pengalaman sederhana ini bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi panjenengan semua.

1. Daun Srikaya untuk Mengatasi  "Blendok" pada pohon Jeruk

Dulu saya mempunyai tujuh pohon jeruk nipis. Hampir semuanya terkena "mblendok". Daunnya keriting dan buahnya menjadi kurang bagus.

Saya kemudian mencoba memanfaatkan sesuatu yang ada di pekarangan: daun srikaya.

Caranya sederhana.

  • Petik daun srikaya tua sekitar tiga genggam padat.
  • Remas-remas, kemudian masukkan ke dalam botol air mineral 1,5 liter
  • Tambahkan 1.2 liter air dan 3 sendok makan gula pasir.
  • Tutup rapat dan fermentasikan selama 14 hari.
  • Setelah itu saring.
  • Untuk membasmi blendok, langsung oleskan di dahan yang keluar Blendok.

Hasil yang saya lihat: sekitar tiga hari kemudian, kondisi pohon mulai membaik dan blendok yang sebelumnya mengganggu berangsur hilang. Pohon jeruk pun kembali terlihat sehat.

Menurut pengalaman saya, daun srikaya memiliki rasa dan aroma yang pahit sehingga mungkin tidak disukai sebagian hama. Namun, pengalaman saya ini tentu masih merupakan pengalaman pribadi di kebun, bukan hasil penelitian laboratorium.

2. Cabai Busuk, Jangan Langsung Dibuang

Cerita berikutnya datang dari tanaman cabai.

Saya pernah menanam cabai dengan buah yang cukup lebat. Namun, masalahnya banyak buah yang mengalami pembusukan.

Saya sempat bingung.

Kemudian muncul pikiran sederhana:

"Kalau cabai yang busuk ini dikembalikan ke tanah, bagaimana?"

Akhirnya cabai-cabai yang busuk saya petik dan saya timbun melingkar di sekitar tanaman.

Hasil yang saya lihat cukup menarik.

Buah cabai berikutnya tumbuh lebih bagus dan pembusukan yang sebelumnya banyak terjadi berkurang. Bahkan akhirnya cabai tersebut bisa saya jual ke warung sayur.

Mengapa bisa demikian?

Saya menduga bahan organik dari cabai yang membusuk kemudian terurai dan menjadi bagian dari bahan organik tanah. Ada kemungkinan juga terjadi aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan.

Tetapi sekali lagi, ini adalah pengalaman yang saya lihat sendiri di kebun, bukan kesimpulan penelitian. Jadi, jangan langsung dianggap bahwa setiap cabai busuk pasti mengandung atau otomatis menumbuhkan Trichoderma.

Justru dari sinilah menariknya belajar dari kebun: kita bisa mencoba, mengamati, lalu belajar dari hasilnya.

3. Sabar Tujuh Tahun, Jambu Dalhari Akhirnya Berbuah


Ini mungkin ilmu yang paling berat: sabar.

Saya menanam jambu Dalhari dan merawatnya selama tujuh tahun.

Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar.

Pernah suatu ketika saya hampir menyerah dan berniat menebangnya karena lama sekali tidak kunjung berbuah.

Tetangga bahkan pernah mengatakan,

"Tebang saja."

Namun saya memilih tetap bersabar.

Tanaman itu terus saya rawat dan saya tunggu.

Alhamdulillah, tahun ini mulai terlihat bakal buahnya.

Dari pohon jambu Dalhari itulah saya kembali belajar bahwa dalam berkebun, tidak semuanya bisa dipaksa untuk menghasilkan dengan cepat.

Sabar dan telaten ternyata juga bagian dari pupuk.

Pupuk mungkin bisa dibeli, tetapi kesabaran tidak ada yang menjual.

Penutup: Ilmu Kadang Bersembunyi di Sekitar Kita

Dari kebun kecil di Bantul itu saya mendapatkan tiga pelajaran sederhana.

Daun srikaya mengajarkan kita untuk melihat potensi yang ada di sekitar rumah.

Cabai busuk mengajarkan kita untuk tidak buru-buru membuang sesuatu sebelum memahami kemungkinan manfaatnya.

Jambu Dalhari mengajarkan bahwa sesuatu yang lama bukan berarti tidak akan menghasilkan.

Kesimpulannya sederhana:

Kadang-kadang, "obat" dan solusi ada di sekitar kita.

Namun yang tidak kalah penting adalah sabar, telaten, mau mencoba, dan mau mengamati hasilnya.

Itulah tiga ilmu emas dari kebun kecil saya.

Semoga pengalaman sederhana ini bermanfaat bagi panjenengan semua.

Kalau panjenengan pernah mengalami hal serupa, silakan berbagi pengalaman di kolom komentar. Siapa tahu pengalaman panjenengan bisa menjadi ilmu bagi orang lain.

Salam dari Kebun Kecil di Bantul. 🙏

(7ok/PIN)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal AI Dola: Sejarah, Perkembangan dan Apa Saja Kemampuannya

Malam 1 Suro: Saat Jawa Menundukkan Diri dalam Hening

SISA KUOTANYA KEMANA ?