Saat Anak Tak Henti Muntah
Saat Anak Tak Henti Muntah — Sebuah Kisah Nyata
Pendahuluan
Kisah ini terjadi pada tahun 1993, ketika anak sulung saya yang masih balita tiba-tiba jatuh sakit. Pengalaman ini adalah gabungan dari kepanikan, keikhlasan, dan kasih sayang orang tua yang diuji oleh keadaan. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi dan pelajaran bagi orang tua lain yang menghadapi situasi serupa.
Awal Mula Kejadian
Sore itu, anak saya pulang dari rumah kakeknya dengan kondisi muntah-muntah tanpa henti. Menurut cerita, siangnya ia bermain mendorong potongan bambu. Ujung bambu itu tanpa sengaja menghantam bagian bawah dadanya akibat terkena lubang kecil di lantai. Sejak itu, muntah tak kunjung reda.
Karena kondisinya semakin mengkhawatirkan, saya segera mengajak istri untuk membawa anak ke RSUD Panembahan Senopati Bantul. Saat itu hujan sangat deras. Meski istri saya sempat ragu, saya tegaskan: "Hujan bukan alasan. Anak kita lebih penting."
Kami naik sepeda motor bertiga — saya, istri, dan anak — mengenakan mantel hujan seadanya. Di tengah hujan lebat, kami tiba di rumah sakit. Anak langsung dibawa ke IGD, diperiksa dokter, dipasang infus, dan kemudian dipindahkan ke bangsal kelas 2.
Diagnosa dan Ketidakpastian
Setelah anak tenang di bangsal, saya menemui dokter yang memeriksanya. Dokter menyampaikan bahwa pankreas anak saya kemungkinan mengalami luka dan harus segera dilakukan tindakan bedah. Walau saya merasa bingung (karena tidak ada pemeriksaan rontgen atau penunjang lain), saya memilih untuk tetap tenang di depan istri dan anak.
Hari-hari berikutnya di rumah sakit menjadi masa yang berat. Hari pertama, muntah masih terus terjadi. Hari kedua, obat diganti — belum ada perubahan. Hari ketiga, obat diganti lagi — muntah belum juga berhenti.
Upaya Alternatif: Garam dan Chiki
Saya teringat sebuah pengalaman pribadi. Jika saya merasa mual, biasanya saya 'nguntut garam' — mencolek sedikit garam dengan ujung jari, lalu menjilatnya dua hingga tiga kali. Biasanya mual saya segera hilang.
Hari keempat, frekuensi muntah anak mulai sedikit berkurang, tapi belum sembuh total. Saya pergi ke toko mencari camilan yang disukai anak dan memiliki rasa asin. Saya pilihkan Chiki. Setelah anak memakan Chiki, frekuensi muntah semakin jarang. Hari kelima, anak benar-benar sembuh.
Alhamdulillah, dokter memperbolehkan kami pulang. Sejak itu, saya sering menyarankan orang yang mual untuk mencoba nguntut garam.
Penutup
Kisah ini adalah pengingat bahwa kadang solusi sederhana bisa berdampak besar. Di tengah kondisi darurat dan pengobatan medis, pendekatan alami atau tradisional juga bisa membantu — selama tetap dalam pengawasan dan pertimbangan matang.
Semoga pengalaman ini bermanfaat, dan menjadi penguat bagi orang tua lain untuk terus berikhtiar dengan cinta dan doa.
Mujiyoko, B.Sc.
Pejuang keluarga dan pembelajar kehidupan
Komentar
Posting Komentar