Di lingkungan dusun atau kampung, ada kebiasaan sederhana yang sejak dulu diajarkan oleh orang tua, yaitu mengucapkan permisi ketika lewat di depan orang yang sedang duduk di teras atau di halaman rumah. Kalimat seperti: "Nuwun sewu…" "Nderek langkung…" "Numpang lewat nggih, atau menyapa (Mbah, pak, Bu, pakde, budhe, mas, mbak, om, Tante ... Monggo - tanpa menyebut nama sudah cukup) terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki makna sosial yang sangat dalam. Sekarang mungkin ada yang menganggap itu hanya formalitas. Tetapi jika kita memahami sejarah terbentuknya jalan kampung, kita akan mengerti mengapa etika kecil ini sebenarnya sangat penting. Sindiran halus dalam budaya masyarakat Dalam kehidupan kampung sebenarnya ada ungkapan sindiran halus bagi orang yang lewat tanpa permisi atau tanpa menyapa. Bukan diucapkan langsung, tetapi kadang hanya dalam hati sebagai refleksi rasa kurang dihargai. Ada yang mengibaratkan seperti: "Koyo kayu keli ing kali...