In Memoriam Seniman Yogyakarta Drs. Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso
Yogyakarta — Parainformatika.com — Kabar duka datang dari dunia seni, budaya, dan pendidikan Yogyakarta. Seniman senior Yogyakarta, Drs. Susilo Nugroho, yang dikenal luas melalui karakter Den Baguse Ngarso, meninggal dunia pada Senin (21/9/2026).
Kepergian Susilo Nugroho menjadi kehilangan bagi dunia seni pertunjukan dan pendidikan Yogyakarta. Sosok yang dikenal sebagai aktor teater, pemain ketoprak, pelawak sekaligus pendidik tersebut telah puluhan tahun berkarya dan mewarnai kehidupan seni dan pendidikan di Yogyakarta.
Susilo Nugroho merupakan salah satu tokoh yang ikut mendirikan Teater Gandrik pada 1983 bersama sejumlah seniman Yogyakarta. Namanya semakin dikenal masyarakat luas melalui karakter Den Baguse Ngarso dalam tayangan Mbangun Deso di TVRI Yogyakarta.
Selain aktif di panggung teater dan ketoprak, Susilo Nugroho juga tercatat membintangi sejumlah karya film dan terus berkesenian hingga masa tuanya.
Kabar wafatnya Susilo Nugroho dibenarkan sejumlah rekan seniman. Budayawan sekaligus rekan berkesenian, Butet Kartaredjasa, juga menyampaikan kabar duka atas berpulangnya Susilo Nugroho melalui media sosial.
Bagi banyak seniman dan masyarakat Yogyakarta, Den Baguse Ngarso bukan sekadar nama sebuah karakter. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang seni pertunjukan dan pendidikan di Bantul Yogyakarta.
Drs. Susilo Nugroho hadiri pernikahan Anggit dan Nella (Foto:7ok/dok 2022)Bagi penulis, kepergian Susilo Nugroho juga meninggalkan duka yang lebih personal.
Ada satu kebiasaan beliau yang sampai sekarang masih saya ingat. Setiap kali berjabat tangan dengan seseorang, Drs. Susilo Nugroho tidak segan-segan mencium tangan orang yang diajaknya berjabat tangan. Ia melakukannya tanpa memandang apakah orang tersebut lebih tua atau lebih muda, laki-laki maupun perempuan.
Namun ada hal yang membuat kebiasaan itu terasa begitu khas. Ketika orang yang bersalaman dengannya hendak membalas dengan mencium tangannya, beliau justru buru-buru menarik tangannya.
Bagi saya, kebiasaan sederhana itu menggambarkan pribadi beliau: senang menghormati orang lain, tetapi tidak ingin dirinya diperlakukan istimewa.
Kini, setelah beliau berpulang, kebiasaan kecil itu justru menjadi salah satu kenangan yang paling melekat dalam ingatan saya.
Kini panggung kehidupan telah ditinggalkan. Namun karya, karakter, humor, serta jejak pengabdiannya dalam dunia seni dan pendidikan akan tetap dikenang.
Selamat jalan, Mas Susilo Nugroho.
Selamat jalan, Den Baguse Ngarso.
Sugeng kondur, swargo langgeng Mas.
Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
(Djoko Mranang Dasiman Siji)


Komentar
Posting Komentar