❗Barometer Rokok dan Dokter yang Keheranan
Barometer Rokok dan Dokter yang Keheranan
Pernah saya mengalami gangguan asam lambung yang cukup parah, hingga harus masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Setelah diperiksa awal, tensi saya menunjukkan angka 120/85 — masih normal. Setelah itu saya diberi suntikan dan diminta beristirahat untuk melihat reaksi obat sekitar dua jam.
Sekitar dua jam kemudian, datanglah seorang dokter yang memeriksa kondisi saya. Beliau bertanya, “Bapak merokok tidak?” Dengan tenang saya jawab, “Tidak, dok.” Tapi dokter lalu menunjuk ke saku baju saya dan bertanya lagi, “Kok di saku Bapak ada rokok? Katanya tidak merokok?”
Saya tersenyum dan menjawab, “Tadi saya memang merokok, Dok. Tapi sekarang kan tidak sedang merokok.”
Sang dokter tampak heran. Saya pun menjelaskan, “Saya merokok bukan semata-mata karena kecanduan, tapi karena rokok bagi saya itu semacam barometer.” Dokter makin heran dan bertanya, “Maksudnya barometer bagaimana?”
Saya jawab, “Kalau saya merokok dan terasa enak, berarti badan saya sedang sehat. Tapi kalau rokok terasa hambar, itu artinya badan saya tidak fit.”
Dokter pun tertawa dan berkata, “Ah Bapak ini ada-ada saja.” Saya pun menyambung sambil bercanda, “Saya ikhlas kalau harus mengurangi makanan favorit saya, asal jangan dilarang merokok itu saja, Dok.” 😄
Disclaimer:
Cerita ini adalah pengalaman pribadi penulis yang ditulis dengan gaya santai. Secara medis, merokok tetap tidak dianjurkan karena risiko kesehatan yang sudah terbukti secara ilmiah. Harap bijak dalam menyikapi isi cerita ini.
— Mujiyoko, B.Sc.
Komentar
Posting Komentar