❌ Firasat dan kenyataan: Perempatan yang tak terlupakan
Firasat dan Kenyataan: Perempatan yang Tak Terlupakan
Dulu di tahun 1996, ketika anak-anakku masih TK, seringkali muncul rasa cemas setiap kali saya mengantar mereka ke sekolah, terutama ketika mengajak si adik yang masih kecil (3,5 th.) Dalam bayangan saya, sering terlintas sebuah kecelakaan kecil di perempatan jalan dekat rumah. Saya membayangkan sepeda menabrak kami. Saat itu saya hanya bisa berdoa, berharap hal buruk itu tak terjadi.
Ternyata, kecemasan itu bukan sekadar bayangan. Tidak lama setelah itu, suatu pagi ketika saya mengantar anak-anak melewati perempatan itu, sebuah sepeda yang dikendarai seorang anak SMA menabrak kami. Alhamdulillah, saya dan anak-anak selamat. Namun, si penabrak sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itu, emosi saya sempat meledak—saking marahnya, saya sempat menendang dadanya hingga dia terpental.
Urusan akhirnya damai. Anak SMA itu mengakui, rem sepedanya blong sehingga ia tak bisa mengendalikan sepeda. Kejadian ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Dari sisi batin, saya merasa firasat saya memang memberi peringatan. Dari sisi spiritual, saya menyadari betapa pentingnya doa dan kewaspadaan setiap kali melangkah, terutama ketika membawa amanah berupa anak-anak.
Pengalaman itu menjadi pelajaran hidup yang tak ternilai. Bahwa cemas yang konstruktif, yaitu disertai kewaspadaan dan doa, kadang memang bisa menjadi sinyal yang menyelamatkan. Dan bahwa setiap peristiwa, meski menegangkan, bisa berakhir damai jika dihadapi dengan kepala dingin dan hati terbuka.
(m 4570 ko)
Komentar
Posting Komentar