💫 Perjalanan karierku
Dari BASIC ke Android
Perjalanan Seorang Guru Komputer dari Bantul – Yogyakarta
Catatan Perjalanan: Mujiyoko, B.Sc.
📖 Daftar Isi
Bab 1 – Dari Warung Soto ke Dunia Komputer
Pagi di Bantul, aroma soto buatan Ibu Sutinah selalu menjadi awal yang hangat. Dari warung kecil itulah, saya belajar arti kerja keras dan pelayanan kepada sesama. Ayah saya, Kamijo — seorang veteran Republik Indonesia — sering berkata, “Anak lanang kudu iso urip merdiko, nganggo pikirané dhewe.” Kalimat itu menjadi bekal saya dalam menapaki jalan hidup yang tak biasa: dari anak warung menjadi guru komputer.
Bab 2 – Masa Awal: BASIC dan Warna Hijau di Layar Hitam
Awal 1990-an, ketika komputer masih langka, saya berkenalan dengan bahasa pemrograman BASIC. Di layar hijau gelap itu, saya melihat masa depan: bagaimana perintah sederhana bisa menggerakkan mesin. Dari rasa kagum itu, lahirlah gagasan untuk mendirikan LPK Para Informatika Computer (PIC) — lembaga pelatihan yang kelak melahirkan ratusan alumni.
Bab 3 – Menyala di Antara Disket dan Printer Dot Matrix
Ruang kecil berisi lima komputer menjadi saksi banyak mimpi. Di sinilah saya mengajar generasi muda mengenal DOS, WordStar, dan dBase III+. Suara printer dot matrix yang berderak seperti genderang semangat, sementara lampu indikator CPU berkedip seperti detak harapan.
Bab 4 – Masa Kejayaan dan Tantangan (1993–2003)
LPK PIC berkembang pesat. Saya diundang menjadi Tim Penguji Nasional, dan alumni mulai tersebar ke berbagai kota. Namun, era Windows datang — membawa tantangan baru. Dunia berubah cepat, dan saya harus belajar ulang agar tetap relevan. Di sinilah saya belajar bahwa mengajar bukan soal usia, tapi semangat untuk terus belajar.
Bab 5 – Dari LPK ke Sekolah dan Dunia Digital
Setelah PIC tutup tahun 2007, saya melanjutkan pengabdian di SMKN 1 Bantul hingga pensiun. Namun jiwa pengajar tidak pernah berhenti. Kini, lewat blog Para Informatika dan teknologi AI, saya kembali berbagi ilmu — bukan lagi di kelas, tapi di ruang digital tanpa batas.
“Kini, ketika saya menulis kembali kisah ini bersama ChatGPT, saya merasa seperti kembali ke ruang kelas lama — tapi muridnya bukan lagi belasan orang di depan saya, melainkan ribuan pembaca yang mungkin belum pernah saya temui.”
Komentar
Posting Komentar