Kungkum mandi berendam tengah malam
Kungkum di Ngetuk – Awal Perjalanan Sunyi
Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Mujiyoko, B.Sc.
Malam yang hening di tepi sungai Ngetuk menjadi saksi awal perjalanan spiritual yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sejak tahun 2004 hingga 2018, saya menjalani ritual kungkum — berendam di sungai pada malam-malam tertentu antara pukul 00:00 sampai dengan 02:00 WIB — sebagai jalan mencari ketenangan batin, keselamatan keluarga, dan keseimbangan hidup.
Latar Belakang
Ritual kungkum bukanlah hal baru di tanah Jawa. Banyak orang tua sesepuh dahulu melakukannya sebagai laku prihatin untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menenangkan pikiran, serta menolak bala. Saya memulai laku ini karena dorongan batin yang kuat setelah melewati masa-masa berat dalam kehidupan pribadi. Lokasi Ngetuk yang terletak di dusun Niten, Kelurahan Trirenggo, Kecamatan Bantul, DI Yogyakarta , saya pilih karena suasananya masih alami, airnya sangat jernih tanpa terkena limbah berbahaya ataupun limbah rumah tangga karena sumber airnya langsung dari mata air dan tidak pernah kering walau di musim kemarau, tempatnya sunyi dan tenang — tempat yang pas untuk menyepi.
Pelaksanaan Ritual
Biasanya saya melakukan kungkum pada malam Senin, malam Kamis, malam Jumat, malam Selasa Kliwon, dan malam Jumat Kliwon. Kadang saya melakukannya sendiri, kadang bersama sembilan orang sahabat yang memiliki niat spiritual serupa. Saat sendirian, suasana terasa lebih dalam, penuh introspeksi. Namun jika dilakukan bersama, ada rasa tenang dan saling menguatkan dalam diam.
Air sungai Ngetuk terasa dingin menyentuh kulit. Tidak ada penerangan selain cahaya rembulan yang memantul di permukaan air. Di situlah saya belajar mendengar — bukan suara luar, tapi bisikan hati sendiri. Terkadang pikiran berputar liar, kadang justru terasa hening sekali seolah waktu berhenti. Saat itulah saya merasa seolah benar-benar dekat dengan Yang Maha Kuasa.
Suasana Mistis di Sekitar Lokasi
Ngetuk dikenal sebagai tempat yang cukup wingit. Beberapa orang mengatakan sering melihat bayangan putih di tepi sungai, atau mendengar langkah kaki di belakangnya. Tapi selama saya menjalani kungkum di sana, saya lebih merasakan getaran halus — bukan rasa takut, melainkan penghormatan pada alam dan makhluk gaib yang mungkin juga sedang beribadah dengan caranya sendiri.
Penutup
Dari Ngetuk saya belajar bahwa ketenangan sejati tidak datang dari tempat ramai, tetapi dari keberanian menghadapi diri sendiri. Laku kungkum ini menjadi titik awal perjalanan sunyi saya, yang kemudian berlanjut ke Tambakbayan dan Palgading. Setiap lokasi membawa kisah dan pelajaran spiritual yang berbeda — semuanya menegaskan bahwa hidup adalah proses penyucian jiwa.
Baca juga: Seri Lengkap Pengalaman Kungkum di Tambakbayan dan Palgading »
Founder Para Informatika Computer (PIC)
Blog edukasi, inspirasi, dan spiritualitas teknologi.
Komentar
Posting Komentar