Wartawan Bodrex
Fenomena “Wartawan Bodrex”: Asal-usul, Ciri-ciri, dan Dampaknya bagi Dunia Jurnalistik
Dalam dunia jurnalisme Indonesia, terutama era 1980–2000-an, muncul sebuah istilah populer yang selalu menjadi bahan obrolan: “wartawan bodrex.” Istilah ini terdengar unik dan sedikit jenaka, tetapi sesungguhnya menggambarkan fenomena sosial yang cukup serius terkait profesi kewartawanan pada masa itu.
Lalu sebenarnya, siapa mereka dan mengapa disebut wartawan “bodrex”?
Asal-usul Istilah “Wartawan Bodrex
Istilah ini konon muncul karena perilaku sekelompok orang yang mengaku sebagai wartawan, tetapi bukan wartawan sungguhan. Mereka biasa hadir di acara-acara tertentu—terutama konferensi pers, peliputan kegiatan masyarakat, hingga acara instansi pemerintah—dengan motivasi bukan untuk membuat berita, melainkan untuk mendapatkan amplop atau uang transport.
Karena sering bergerombol dan “meriang” kalau tidak dapat amplop, maka mereka dijuluki seperti orang yang menelan obat pereda pusing “Bodrex”—singkatan dari “bocoran duit receh”, menurut versi candaan sebagian jurnalis lama.
Istilah ini kemudian melekat menjadi sebutan bagi wartawan gadungan, wartawan liar, atau wartawan tanpa media yang jelas.
Ciri-Ciri Wartawan Bodrex
Walaupun terkesan lucu, fenomena ini punya pola khusus yang mudah dikenali:
1. Tidak Memiliki Identitas Media yang Valid
- Biasanya mereka membawa ID card yang:
- Nama medianya tidak jelas
- Tidak terdaftar di Dewan Pers
- Bahkan terkadang buatan sendiri
2. Datang Berkelompok
Mereka sering hadir bergerombol, meski acara kecil sekalipun, seperti:
- Peresmian kantor
- Kegiatan RT/RW
- Acara sekolah
- Pengambilan bantuan
- Rapat desa
3. Jarang Membuat Berita
Bahkan jika mengambil foto, hasilnya tidak pernah muncul di media mana pun.
Tujuan utama mereka adalah “menghadiri, bukan meliput.”
4. Menunggu Amplop
Inilah karakter paling khas. Setelah acara selesai, mereka perlahan mendekat panitia, mengharapkan:
- Uang transport
- Snack
- "Tanda terima kasih”
Jika tidak ada amplop, biasanya langsung kabur atau menggerutu.
5. Sering Menggunakan Nada Tekanan
Beberapa bahkan memakai kalimat-kalimat seperti:
“Nanti kami naikkan beritanya, tapi bisa dibantu transportnya ya Pak?”
“Wartawan lain biasanya dikasih lho…”
Walau tidak mengancam langsung, tekanan halus seperti ini pernah membuat banyak pejabat atau panitia merasa tidak enak hati.
Mengapa Wartawan Bodrex Bisa Muncul?
Fenomena ini muncul dari beberapa faktor:
1. Dulu Media Belum Se-teratur Sekarang
Era 80–90-an, media massa masih sedikit, birokrasi longgar, dan pengawasan minim.
Siapa pun bisa mengaku wartawan tanpa verifikasi.
2. Kesejahteraan Wartawan Rendah
Gaji wartawan sungguhan pun saat itu tidak tinggi.
Sebagian mencari tambahan dari “amplop liputan.”
3. Rendahnya Literasi Publik
Masyarakat belum memahami perbedaan antara:
Wartawan profesional
Wartawan abal-abal
Sehingga mudah tertipu atau takut ketika didatangi rombongan berkamera dan membawa ID card.
Dampak Negatif Fenomena Wartawan Bodrex
Fenomena ini menimbulkan beberapa dampak yang cukup merugikan:
1. Merusak Citra Profesi Wartawan
Banyak pejabat, panitia acara, hingga masyarakat, menjadi tidak percaya pada wartawan sungguhan.
2. Menciptakan Budaya “Amplop” dalam Dunia Pers
Seakan-akan wartawan bekerja bukan untuk menulis berita, tetapi untuk mencari “uang jalan”.
3. Menciptakan Ketakutan dan Ketidaknyamanan Publik
Beberapa panitia acara merasa harus menyediakan anggaran khusus untuk wartawan, meski itu bukan kewajiban.
4. Menurunkan Kualitas Informasi Publik
Karena yang datang bukan wartawan sesungguhnya, tidak ada berita berkualitas yang dihasilkan dari liputan acara.
Bagaimana Kondisi Sekarang?
Setelah era reformasi dan hadirnya Dewan Pers, sistem verifikasi media diperketat. Sertifikasi kompetensi wartawan juga mulai diberlakukan.
Meski begitu, fenomena “wartawan bodrex” belum hilang sepenuhnya. Masih ada di beberapa daerah, terutama dalam acara-acara kecil atau lokal. Namun jumlahnya jauh berkurang dibanding puluhan tahun lalu.
Kesimpulan
“Wartawan bodrex” adalah fenomena sosial unik dalam sejarah jurnalisme Indonesia. Istilah ini menggambarkan orang-orang yang mengaku wartawan, tetapi tidak menjalankan tugas jurnalistik, melainkan mencari keuntungan dari amplop liputan.
Meskipun kini sudah banyak berkurang, istilah ini menjadi pelajaran penting bahwa kejujuran, etika, dan profesionalisme adalah fondasi utama dunia pers.
Dan, tentu saja, menjadi pengingat bahwa sejarah jurnalisme Indonesia pernah diwarnai hal-hal lucu, kreatif, sekaligus ironis.
(7ok)
Komentar
Posting Komentar