Etika Bertamu yang Mulai Hilang

Bertamu adalah bagian dari tradisi sosial yang sejak dahulu dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di lingkungan pedesaan. Bertamu bukan sekadar datang ke rumah orang, tetapi juga membawa nilai silaturahmi, penghormatan, dan persaudaraan.

Namun jika kita amati sekarang, ada beberapa etika bertamu yang mulai jarang diperhatikan. Bukan karena orangnya tidak baik, tetapi karena perubahan zaman dan kebiasaan.

Beberapa hal sederhana yang dulu dianggap penting antara lain:

1. Memberi salam sebelum masuk

Orang tua dulu selalu mengajarkan: Kalau bertamu harus mengucapkan salam atau minimal permisi.

Bukan langsung masuk atau langsung memanggil dari teras tanpa etika.

Karena salam bukan sekadar kata-kata, tetapi tanda kita menghormati pemilik rumah.

2. Memilih waktu yang tepat

Dulu orang sangat menjaga waktu bertamu:

  • Tidak terlalu pagi
  • Tidak saat waktu istirahat
  • Tidak terlalu malam kecuali penting

Sekarang kadang ada yang datang tanpa mempertimbangkan waktu, padahal tuan rumah mungkin sedang istirahat atau ada keperluan.

3. Tidak terlalu lama jika tidak ada kepentingan penting

Ini juga etika lama yang sangat baik. Bertamu secukupnya saja.

Kalau terlalu lama tanpa keperluan penting, bisa membuat tuan rumah sungkan walaupun tidak mengatakan.

4. Tidak sibuk dengan HP sendiri

Ini kebiasaan baru yang sering terjadi. Bertamu tetapi justru sibuk dengan HP sendiri. Secara tidak langsung ini bisa memberi kesan kurang menghargai orang yang dikunjungi.

Kalau memang ada pesan penting, sebaiknya izin terlebih dahulu.

5.  Pamit dengan baik

Orang dulu selalu mengajarkan: Kalau pulang harus pamit, jangan tiba-tiba pergi.

Kalimat sederhana seperti:

"Maaf Saya pamit dulu nggih."

Ini terlihat sederhana tetapi menunjukkan penghormatan.

Nilai yang sebenarnya sedang kita jaga

Semua etika kecil ini sebenarnya bukan soal aturan kaku, tetapi soal menjaga perasaan orang lain.

Dalam budaya Jawa dikenal istilah:

tepa selira – kemampuan merasakan posisi orang lain.

Kalau kita berada di posisi tuan rumah, tentu kita ingin dihargai. Maka saat kita bertamu, kita juga menjaga sikap.

Penutup

Bertamu bukan hanya soal datang, tetapi soal membawa sikap.

Bukan soal seberapa sering kita bersilaturahmi, tetapi bagaimana kita menjaga kenyamanan orang yang kita kunjungi.

Karena pada akhirnya yang diingat orang bukan hanya kedatangan kita, tetapi sikap kita.

Mari kita jaga kembali kebiasaan baik:

  • Bertamu dengan sopan
  • Datang dengan niat baik
  • Pulang dengan meninggalkan kesan baik

Karena orang yang berkelas tidak selalu terlihat dari penampilan, tetapi dari sikapnya dalam hal-hal sederhana.

👉 Baca artikel etika terkait 👇

Komentar

Postingan populer dari blog ini

💪 Semangat di Masa Pensiun – Antara Rutinitas yang Berhenti dan Hidup yang Baru Dimulai

SISA KUOTANYA KEMANA ?

Nyadran di Dusun Pepe RT 01 Digelar, Warga Antusias Ikuti Doa Bersama