Kenangan Mata Kuliah Jalur Kritis Tahun 1985 yang Masih Membekas Sampai Sekarang
Dalam perjalanan hidup seseorang, kadang ada satu mata kuliah yang bukan hanya dipelajari untuk lulus ujian, tetapi justru menjadi bekal cara berpikir sepanjang hidup. Bagi saya, salah satu mata kuliah yang paling berkesan adalah Network Planning (CPM – Critical Path Method) yang saya pelajari sekitar tahun 1985.
Sampai sekarang, walaupun buku catatan kuliah saya sudah lama hilang entah kemana, konsep jalur kritis masih saya ingat dengan jelas.
Saat Pertama Mengenal Jalur Kritis
Waktu itu kami belajar bagaimana merencanakan pembangunan suatu proyek melalui diagram jaringan kerja. Setiap pekerjaan digambarkan dengan panah, setiap titik disebut event, dan setiap aktivitas memiliki durasi waktu.
Yang paling saya ingat adalah istilah:
Critical Path (Jalur Kritis)
Yaitu jalur pekerjaan yang paling menentukan selesainya suatu proyek. Jika jalur ini terlambat, maka seluruh proyek juga pasti terlambat.
Secara sederhana dosen kami menjelaskan:
"Fokuslah pada pekerjaan yang paling menentukan keberhasilan."
Kalimat sederhana itu ternyata bukan hanya berlaku dalam proyek, tetapi juga dalam kehidupan.
Ternyata Jalur Kritis Itu Ada Dalam Kehidupan
Setelah lulus dan menjalani berbagai pekerjaan, tanpa saya sadari saya sering menggunakan pola pikir itu.
Ketika saya mendirikan lembaga kursus komputer, saya belajar bahwa: tidak semua pekerjaan harus dikerjakan bersamaan.
Harus ada prioritas: mana yang penting, mana yang menentukan keberhasilan, dan mana yang bisa menyusul.
Begitu juga ketika mengelola kursus, menyusun materi, sampai membimbing siswa, semua membutuhkan perencanaan.
Tanpa sadar, ilmu jalur kritis yang dulu saya pelajari ikut membentuk cara berpikir saya.
Hidup Juga Punya Jalur Kritis
Sekarang setelah memasuki masa pensiun, saya justru semakin memahami bahwa hidup juga memiliki jalur kritis.
Bukan soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang tetap berjalan di jalurnya.
Dalam hidup saya, jalur kritis itu mungkin adalah: belajar, mengajar, komputer, dan berbagi pengalaman.
Walaupun kondisi hidup kadang naik turun, ternyata jalur itu tetap sama.
Ilmu Tidak Pernah Benar-benar Hilang
Buku boleh hilang. Catatan boleh hilang. Tetapi ilmu yang pernah dipahami dengan hati biasanya tidak ikut hilang.
Ia akan tetap tersimpan dalam cara kita berpikir.
Mungkin itulah sebabnya sampai sekarang saya masih senang menulis, berbagi pengalaman, dan mencoba tetap produktif walaupun sudah tidak lagi aktif bekerja seperti dulu.
Penutup
Dari pengalaman ini saya percaya:
Ilmu yang paling berharga bukan hanya yang membuat kita lulus ujian, tetapi yang membentuk cara kita menjalani kehidupan.
Dan bagi saya, salah satu ilmu itu adalah pelajaran tentang jalur kritis yang saya dapatkan puluhan tahun yang lalu.
Karena ternyata bukan hanya proyek yang punya jalur kritis.
Hidup kita pun juga punya.
Dan yang terpenting adalah: tetap berjalan di jalur yang benar.
Catatan Pribadi Penulis
Kalau saya renungkan sekarang, mungkin Tuhan sudah mengajarkan saya tentang kehidupan jauh sebelum saya benar-benar memahaminya.
Dulu saya hanya mengira itu sekadar mata kuliah biasa. Belajar menghitung waktu proyek, mencari jalur terpanjang, dan menyelesaikan soal ujian.
Tetapi ternyata setelah puluhan tahun berlalu, saya baru sadar bahwa pelajaran itu seperti gambaran kehidupan saya sendiri.
Ada masa membangun. Ada masa berhasil. Ada masa sulit. Bahkan ada masa seperti berhenti di titik nol.
Namun seperti dalam teori jalur kritis, perjalanan tidak berhenti hanya karena satu jalur terhambat. Selama masih ada titik awal dan titik akhir, perjalanan itu sebenarnya masih berlangsung.
Sekarang di masa pensiun, ketika kondisi ekonomi tidak seperti dulu lagi, saya tidak malu mengakui bahwa saya sedang memulai lagi dari bawah. Tetapi saya juga percaya, selama masih mau berpikir, belajar, dan berbagi pengalaman, berarti perjalanan belum selesai.
Mungkin inilah jalur kritis hidup saya sekarang: tetap bermanfaat walaupun sederhana, tetap berkarya walaupun pelan, dan tetap berbagi walaupun sedikit.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri, tetapi seberapa kuat kita mau tetap berjalan.
Salam hangat untuk para alumni, teman seperjalanan, dan siapa saja yang masih mau terus belajar tanpa mengenal usia.
Ditulis sebagai refleksi pengalaman belajar tahun 1985.
"Al-Fatihah untuk istriku tercinta Dra. Suharniyati. Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku."
👉 Baca juga Artikel yang mungkin bermanfaat:
👉 Bagikan artikel ini:
- LPK Para Informatika Computer (PIC)
- Situs Para Informatika News (PIN) - www.parainformatika.com
- Penulis & Edukator

Komentar
Posting Komentar