Belajar Menjadi Mertua Yang Menenteramkan
Dari artikel berjudul "Sikap Menantu Perempuan kepada Ibu Mertua"(https://www.parainformatika.com/2026/05/sikap-menantu-perempuan-kepada-ibu.html)
Ada respon dari oma yang sangat menyentuh hati saya.
Beliau berkata:
“Masih terus belajar menjadi mertua yang baik, agar mantu merasa dicintai dan dihargai… harapannya menantu akan hidup tenteram dan bahagia… dan tentunya akan membahagiakan pasangan hidupnya juga (anak saya) dan cucu-cucu saya.”
"Saya tidak turut campur dalam urusan keluarga anak, kecuali dimintai pendapat"
Kalimat sederhana… tetapi dalam sekali maknanya.
Kadang kita lupa, mencintai anak ternyata juga harus belajar mencintai pasangan hidup anak.
Karena ketika menantu merasa diterima, rumah tangga anak menjadi lebih tenang. Dan jika rumah tangga anak tenang, cucu-cucu pun tumbuh dalam suasana penuh kasih sayang.
Menjadi mertua yang baik memang bukan berarti harus selalu benar. Kadang cukup: tidak mudah menghakimi, tidak terlalu ikut campur, dan tetap menghargai cara hidup generasi anak sekarang.
Kita semua sedang belajar. Anak belajar menjadi pasangan yang baik. Menantu belajar menjadi bagian keluarga baru. Dan orang tua pun belajar menjadi tempat teduh, bukan sumber tekanan.
Ternyata… kedamaian keluarga sering lahir dari hal-hal kecil: cara berbicara, cara menghargai, dan kemampuan menahan diri.
Semoga para orang tua, mertua, menantu, dan anak-anak kita selalu diberi kelembutan hati untuk saling memahami. 🙏
Baca juga 👇 👇
- Etika Menginap di Rumah Saudara atau Teman
- Ketika Orang Tua Menginap di Rumah Anak dan Menantu
- Kuliner Soto Daging Sapi Legendaris di Bantul
Bagikan artikel ini ke:
Penulis
Mujiyoko, B.Sc.
- Penulis & Edukator (2003-sekarang)
- Founder Para Informatika News (www.parainformatika.com)

Komentar
Posting Komentar