Seorang Istri Bangun Saat Dunia Masih Tidur

Rutinitas Seorang Istri yang Sering Tidak Terlihat, Namun Menjadi Penopang Kehangatan Keluarga

Seorang istri adalah sosok yang paling memahami denyut kehidupan rumah tangga. Dari urusan dapur hingga urusan kasur, hampir semuanya disentuh oleh tangannya.

Ketika suami dan anak-anak masih terlelap tidur, seorang istri biasanya sudah bangun lebih dulu. Dalam sunyi pagi buta ia mandi, lalu melaksanakan sholat bagi yang muslim. Setelah itu langkah pertamanya menuju dapur. Merebus air menjadi pekerjaan pertama untuk menyiapkan minum suami dan anak-anak.

Belum matahari terbit, pekerjaan rumah sudah mulai berjalan. Menyiapkan sarapan pagi, merapikan rumah, menyapu lantai, membersihkan ruangan, hingga memastikan rumah tetap nyaman ditempati seluruh anggota keluarga.

Jika anak-anak masih kecil, tugas seorang istri menjadi jauh lebih berat. Ia harus memandikan anak-anak, memakaikan baju, menyuapi makan, menyiapkan perlengkapan sekolah, bahkan mengantar mereka sekolah.

Setelah pekerjaan pagi selesai, masih ada tumpukan piring dan gelas yang harus dicuci. Baju kotor menunggu dicuci lalu dijemur. Siang hari belum tentu bisa beristirahat karena masih harus menyeterika pakaian suami dan anak-anak.

Belum lagi urusan belanja bahan makanan untuk memasak makan siang. Ketika jarum jam mendekati tengah hari, ia kembali masuk dapur untuk memasak. Setelah itu masih harus menjemput anak pulang sekolah dan menemani aktivitas mereka di rumah.

Semua itu dilakukan hampir setiap hari tanpa banyak keluhan.

Inilah gambaran seorang istri yang benar-benar menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Tidak memiliki kantor mewah, tidak memiliki jam kerja resmi, tidak ada gaji bulanan, bahkan sering kali pekerjaannya dianggap biasa saja.

Padahal sesungguhnya, rumah yang tenang sering berdiri di atas lelahnya seorang istri yang jarang terlihat.

Karena itu, jangan mudah meremehkan seorang istri. Sebab di balik keberhasilan seorang suami dan kenyamanan anak-anak, ada perempuan hebat yang diam-diam mengorbankan waktu, tenaga, dan perasaannya demi keluarganya.

Refleksi 

Selama hidup bersama istri, saya hampir tidak pernah marah hanya karena sepulang kerja belum tersedia minum atau makan. Saya memahami bagaimana beratnya rutinitas seorang istri di rumah.

Bahkan ada kebiasaan kecil yang selalu saya lakukan sejak dulu. Jika istri sudah menyiapkan minum, saya tidak langsung meminumnya sebelum istri berkata: “Pak, minumnya sudah siap.”

Barulah saya meminumnya.

Mengapa demikian?

Karena saya ingin menjaga komunikasi sekecil apa pun di dalam rumah tangga. Walaupun kadang sedang ada salah paham atau sedikit rasa marah, dengan cara itu istri tetap akan berbicara kepada saya.

Pernah suatu hari istri lupa memberi tahu. Minuman itu tetap saya biarkan belum diminum. Setelah istri melihat gelas masih utuh, barulah ia berkata: “Lho, belum diminum toh Pak?”

Dari situlah percakapan kecil kembali terbuka.

Kebiasaan itu saya mencontoh dari kakek dan bapak saya dahulu. Ternyata komunikasi rumah tangga kadang memang dijaga bukan dengan hal-hal besar, tetapi justru lewat perhatian-perhatian kecil yang sederhana.

Penutup

Karena itu, jangan mudah meremehkan seorang istri. Sebab di balik keberhasilan seorang suami dan kenyamanan anak-anak, ada perempuan hebat yang diam-diam mengorbankan waktu, tenaga, dan perasaannya demi keluarganya.

Kadang kebahagiaan rumah tangga bukan dibangun dari kemewahan, tetapi dari perhatian-perhatian kecil yang terus dijaga setiap hari.

Persembahan 

Tulisan ini saya dedikasikan untuk mendiang istriku tercinta mendiang Dra. Suharniyati.

Terima kasih atas seluruh pengabdian, kesabaran, perhatian, dan kasih sayang yang pernah engkau berikan selama mendampingi perjalanan hidup dan keluarga kita.

Kini mungkin suaramu sudah tidak lagi terdengar di rumah ini, tetapi kenangan tentang ketulusanmu tetap hidup di hati kami.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosamu, melapangkan alam kuburmu, menerima seluruh amal ibadahmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Al Fatihah....

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Baca juga 👇 👇 


Bagikan artikel ini ke:



Penulis

Mujiyoko, B.Sc.

- Pendiri LPK Para Informatika Computer (1990-2007)
- Penulis & Edukator (2003-sekarang)
- Founder Para Informatika News (www.parainformatika.com) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

💪 Semangat di Masa Pensiun – Antara Rutinitas yang Berhenti dan Hidup yang Baru Dimulai

Nyadran di Dusun Pepe RT 01 Digelar, Warga Antusias Ikuti Doa Bersama

SISA KUOTANYA KEMANA ?