Sikap Menantu Perempuan kepada Ibu Mertua
Bukan rahasia lagi bahwa sejak dahulu hingga sekarang, hubungan antara menantu perempuan dan ibu mertua sering menjadi salah satu ujian paling rumit dalam kehidupan rumah tangga.
Tidak semua memang bermasalah. Banyak juga hubungan mertua dan menantu yang sangat akrab seperti ibu dan anak kandung sendiri. Namun dalam kenyataannya, konflik kecil maupun besar tetap sering terjadi.
Dan yang paling sering menjadi korban tekanan batin adalah menantu perempuan.
Mengapa Konflik Ini Sering Terjadi?
Penyebabnya bermacam-macam.
Kadang bukan karena kebencian besar, tetapi karena:
- perbedaan harapan,
- gengsi keluarga,
- rasa memiliki terhadap anak lelaki,
atau sulit menerima kenyataan bahwa anak kesayangannya kini lebih dekat dengan perempuan lain.
Beberapa hal yang sering menjadi pemicu misalnya:
1. Ibu Mertua Diam-Diam Tidak Merestui
Ada ibu yang sejak awal sebenarnya kurang setuju anak lelakinya menikah dengan pilihan hatinya.
Tetapi karena anak tetap bersikeras menikah, akhirnya ibu hanya diam atau terpaksa menerima.
Sayangnya, penolakan yang dipendam kadang muncul dalam bentuk:
- sindiran,
- omelan,
- kritik kecil,
- atau sikap dingin kepada menantu.
2. Menantu Dianggap Tidak Selevel
Masih ada sebagian orang tua yang memandang:
- status sosial,
- pekerjaan,
- pendidikan,
- atau kekayaan keluarga.
Akibatnya, menantu dianggap:
- kurang pantas,
- tidak setara,
- atau tidak sesuai bayangan ideal keluarga.
Padahal kebahagiaan rumah tangga tidak selalu ditentukan oleh status.
3. Menantu Berasal Dari Desa
Ini juga masih sering terjadi.
Kadang menantu dari desa dianggap:
- kurang modern,
- kurang percaya diri,
- kurang bergaul,
- atau kurang “kelas”.
Padahal banyak perempuan desa justru:
- lebih sabar,
- telaten,
- hormat kepada orang tua,
- dan kuat menghadapi kehidupan.
Karakter baik tidak ditentukan oleh asal kota atau desa.
4. Menantu Tidak Pandai Memasak
Dalam budaya lama, perempuan sering diukur dari urusan dapur.
Akibatnya, jika menantu:
- masak kurang enak,
- belum cekatan,
- atau belum terbiasa mengurus rumah,
maka mudah menjadi bahan komentar.
Padahal kemampuan rumah tangga bisa dipelajari seiring waktu.
Tidak semua perempuan langsung sempurna sejak awal menikah.
5. Menantu Tidak Bekerja atau Bukan Pegawai
Sebagian mertua merasa bangga jika menantunya:
- pegawai negeri,
- pekerja kantoran,
- atau memiliki jabatan tertentu.
Ketika menantu hanya ibu rumah tangga biasa, kadang dipandang kurang membanggakan.
Padahal menjadi ibu rumah tangga juga pekerjaan besar yang tidak ringan.
Yang Paling Sulit Adalah Ketika Anak Lelaki Berada di Tengah
Di sinilah posisi suami sering sangat berat.
Di satu sisi:
- ia mencintai istrinya,
- ingin melindungi rumah tangganya.
Di sisi lain:
ia tetap anak yang ingin berbakti kepada ibunya.
Kalau tidak bijak, suami bisa:
- terlalu memihak ibu,
- atau terlalu membela istri.
Keduanya bisa menimbulkan luka baru.
Menurut Saya, Ada Hal Penting yang Sering Dilupakan Ibu Mertua
Kadang seorang ibu lupa bahwa:
perempuan yang dinikahi anak lelakinya adalah wanita yang akan menemani hidup anaknya setiap hari.
Bukan ibu.
Karena itu, jika anak sudah memilih dan menikah dengan sadar, maka pilihan itu perlu dihormati.
Tidak harus selalu sesuai standar ideal orang tua.
Sebab cinta anak tidak selalu sama dengan bayangan ibunya.
Sikap Menantu Perempuan yang Bijak
Walaupun mendapat perlakuan kurang nyaman, menantu perempuan tetap perlu menjaga sikap.
Bukan karena rendah diri, tetapi demi menjaga rumah tangga tetap tenang.
Beberapa sikap yang penting dijaga:
- tetap sopan,
- tidak mudah membalas,
- tidak mempermalukan mertua,
- dan tidak memprovokasi suami membenci ibunya sendiri.
Karena ketika suami dipaksa memilih antara ibu dan istri, biasanya batinnya akan sangat tersiksa.
Tetapi Menantu Juga Manusia
Namun bukan berarti menantu harus terus diam menahan luka.
Menantu perempuan juga punya:
- hati,
- harga diri,
- dan batas kesabaran.
Karena itu ibu mertua juga perlu memahami:
- menantu bukan pembantu,
- bukan pula pesaing kasih sayang anak lelaki.
Ia adalah perempuan yang sedang berusaha membangun keluarga bersama anaknya.
Hubungan Baik Tidak Bisa Dipaksa, Tetapi Bisa Diusahakan
Hubungan mertua dan menantu sebenarnya mirip dua orang asing yang dipertemukan oleh pernikahan.
Karena itu wajar jika perlu proses penyesuaian.
Kuncinya bukan mencari siapa paling benar, tetapi:
- saling menghargai,
- mengurangi ego,
- dan menjaga ucapan.
Kadang satu kalimat lembut bisa memperbaiki hubungan bertahun-tahun.
Sebaliknya, satu ucapan tajam bisa meninggalkan luka sangat lama.
Penutup
Dalam kehidupan keluarga, mertua dan menantu sebenarnya memiliki tujuan yang sama:
sama-sama ingin anak lelaki yang dicintainya hidup bahagia.
Hanya caranya kadang berbeda.
Karena itu, ibu mertua perlu belajar menerima pilihan anaknya.
Dan menantu perempuan juga perlu belajar memahami bahwa seorang ibu kadang sulit melepaskan anak lelakinya sepenuhnya.
Sebab pada akhirnya:
keluarga yang damai bukan keluarga tanpa perbedaan, tetapi keluarga yang masih mau saling menghormati meski berbeda harapan dan kebiasaan. 🙏
Baca juga 👇 👇
- Etika Menginap di Rumah Saudara atau Teman
- Ketika Orang Tua Menginap di Rumah Anak dan Menantu
- Kuliner Soto Daging Sapi Legendaris di Bantul
Bagikan artikel ini ke:
Penulis
Mujiyoko, B.Sc.
- Penulis & Edukator (2003-sekarang)
- Founder Para Informatika News (www.parainformatika.com)

Komentar
Posting Komentar