Mengajar Komputer Tahun 1988: 4 PC untuk 40 Siswa di Tengah Keterbatasan


Tahun 1988 adalah masa ketika komputer masih menjadi barang langka dan mahal. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat untuk belajar. Dengan hanya 4 unit komputer, saya harus mengajar 40 siswa yang penuh rasa ingin tahu terhadap teknologi yang saat itu masih tergolong baru. Dari situlah dimulai perjalanan panjang pendidikan komputer yang penuh tantangan, kreativitas, dan semangat berbagi ilmu.

Suasana pembelajaran komputer tahun 1988 dengan keterbatasan fasilitas, di mana 4 unit komputer digunakan oleh 40 siswa secara bergiliran.

Tahun 1988 saya mendapat tugas dari Archimedes College Yogyakarta untuk mengajar kursus komputer di STM 1 Jetis Yogyakarta. Ini adalah pengalaman yang sampai sekarang masih membekas dalam ingatan saya, karena di situlah saya benar-benar belajar arti kreativitas dalam mengajar.

Fasilitas yang tersedia saat itu sangat terbatas:

Satu unit komputer PC/XT dengan satu floppy disk drive 5¼ inci yang digunakan sebagai sarana praktik siswa pada tahun 1988.

Spesifikasi peralatan:

  • 4 unit komputer PC/XT
  • RAM 64 KB
  • 1 floppy disk drive 5¼ inci (360 KB)
  • Tanpa harddisk
  • Tanpa printer

Software yang digunakan:

  • PC-DOS
  • GW-BASIC
  • WordStar
  • Lotus 1-2-3

Kondisi kelas:

  • 40 siswa
  • Dibagi 2 sesi
  • 1 komputer digunakan 5 siswa
  • Kursus berlangsung 3 bulan
  • Pertemuan 2 kali seminggu

Tantangan Terbesar: 1 Disk Drive untuk Banyak Kebutuhan

Tantangan terbesar justru bukan jumlah komputer, tetapi hanya adanya satu disk drive di setiap komputer.

Artinya setiap praktik harus bergantian untuk:

  • Booting PC dengan disket DOS
  • Menjalankan program BASIC
  • Mengetik di WordStar
  • Latihan Lotus 1-2-3
  • Copy file
  • Format disket siswa
  • Menyimpan hasil pekerjaan siswa

Semua dilakukan dari disket ke disket.

Bayangkan kalau satu siswa salah langkah, maka harus diulang dari awal. Di sinilah kesabaran benar-benar diuji.

Strategi Mengajar yang Saya Terapkan

Saya tidak memiliki ilmu pedagogik tetapi dengan cara saya sendiri saya berusaha Agar pembelajaran tetap efektif, saya menerapkan beberapa strategi sederhana:

1. Sistem rotasi praktik Saya membuat sistem rotasi praktik sekitar 10 menit.

Skemanya:

  • 1 siswa praktik langsung
  • 4 siswa lain mengamati
  • Siswa pengamat ikut membantu mengoreksi

Tanpa saya sadari, metode ini justru menciptakan pembelajaran kolaboratif alami.

2. Setiap siswa wajib punya disket sendiri

Setiap siswa minimal membawa:

1 disket untuk data pribadi

Tujuannya:

  • Melatih tanggung jawab data
  • Membiasakan manajemen file
  • Melatih disiplin penyimpanan

Ini sebenarnya sudah seperti konsep personal storage di era sekarang.

3. Panduan langkah praktis

Setiap materi baru saya buatkan:

  • Panduan langkah demi langkah
  • Urutan perintah DOS
  • Cara copy file
  • Cara format disket

Metodenya:

  • Dijelaskan dulu
  • Baru praktik

Jadi siswa tidak langsung bingung saat duduk di depan komputer.

4. Mengandalkan kesabaran, bukan trik

Kalau ditanya apakah ada trik mempercepat copy disket?

Jawabannya sederhana:

Tidak ada.

Yang ada hanya:

  • Kesabaran
  • Pengulangan
  • Pendampingan

Karena di zaman itu, kecepatan bukan ditentukan teknologi, tetapi ketelatenan pengajar.

Pelajaran Berharga dari Pengalaman Ini

Dari pengalaman tersebut saya belajar satu hal penting:

Keterbatasan fasilitas bukan penghalang keberhasilan pembelajaran, jika pengajarnya kreatif.

Bahkan saya melihat siswa menjadi:

  • Lebih teliti
  • Lebih sabar
  • Lebih mandiri
  • Lebih kompak

Karena mereka terbiasa belajar bersama dalam keterbatasan.

Refleksi di Masa Sekarang

Kalau dibandingkan sekarang:

  • Komputer sudah sangat canggih
  • Laptop/PC sudah murah
  • Storage sudah besar
  • Internet sudah cepat

Tetapi kadang justru:

  • Kesabaran berkurang
  • Ketelitian menurun
  • Semangat belajar tidak sekuat dulu

Pengalaman tahun 1988 itu mengajarkan saya bahwa:

Mujiyoko, B.Sc./Penulis

Teknologi boleh berkembang, tetapi nilai dasar pendidikan tetap sama: kesabaran, metode, dan ketulusan mengajar.

"Keterbatasan fasilitas tidak pernah menjadi penghalang untuk belajar/mengajar. Justru dari keterbatasan lahir semangat, kreativitas, kesabaran, dan metode yang membentuk generasi tangguh."

Jika Anda juga mengalami masa belajar komputer zaman DOS, silakan berbagi pengalaman di kolom komentar.


Bagikan cerita ini ke:
📘 Facebook | ✖ X | 💬 WhatsApp

Salam teknologi,

Mujiyoko, B.Sc.

- Pendiri LPK Para Informatika Computer (1990-2007)
- Penulis (2003-sekarang)
- Pendiri Para Informatika News (www.parainformatika.com) (2025}
- Redaktur Media Suara Tivi Jogja (www.suarativijogja.com) (2026)

Komentar