10 Ciri-Ciri Berita Hoaks yang Perlu Dikenali Sebelum Menekan Tombol Teruskan
PARA INFORMATIKA NEWS (PIN) — Literasi Digital
Di zaman digital sekarang ini, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui WhatsApp, Facebook, TikTok, dan berbagai platform media sosial lainnya. Dalam hitungan menit, sebuah pesan dapat diteruskan ke puluhan grup dan menjangkau ribuan orang.
Tetapi tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Ada informasi yang benar, ada yang keliru karena kesalahpahaman, dan ada pula informasi palsu yang sengaja dibuat untuk menipu atau memengaruhi masyarakat.
Masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi digital agar tidak mudah percaya, tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi, dan tidak ikut memperluas peredaran berita hoaks.
Kemudian bagaimana cara mengenali ciri-ciri broadcast atau berita yang patut dicurigai sebagai hoaks?
Inilah 10 ciri-ciri broadcast atau berita yang bisa dicurigai sebagai hoax:
1. Judul provokatif dan menakut-nakuti
Salah satu ciri yang perlu diwaspadai adalah judul yang menggunakan kata-kata berlebihan, seperti “AWAS!”, “GEMPAR!”, “SEBARKAN SEGERA!”, atau “JANGAN SAMPAI TERLAMBAT!”.
Contohnya, sebuah pesan menyatakan bahwa seluruh rekening bank akan diblokir besok dan meminta masyarakat segera meneruskannya kepada semua kontak.
Pesan seperti ini perlu diperiksa melalui sumber resmi. Bahasa yang menakut-nakuti bukan bukti pasti bahwa informasi itu palsu, tetapi dapat digunakan untuk mendorong orang bertindak tanpa berpikir panjang.
2. Sumber informasi tidak jelas
Informasi yang dapat dipertanggung jawabkan idealnya memiliki sumber yang dapat ditelusuri, misalnya media yang menerbitkan berita, lembaga yang mengeluarkan pengumuman, atau narasumber yang memberikan keterangan.
Waspada terhadap pesan yang hanya menyebutkan “menurut informasi yang beredar”, “katanya dari orang dalam”, atau “dari sumber terpercaya”, tanpa memberikan bukti yang dapat diperiksa.
Namun begitu, ketiadaan sumber tidak otomatis membuktikan bahwa informasi tersebut hoaks. Artinya, kebenarannya belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pesan itu.
3. Meminta pesan disebarkan secara berantai
Broadcast yang berbunyi “Tolong sebarkan ke seluruh grup keluarga”, “Kirim ke sepuluh orang”, atau “Jangan berhenti di HP Anda” perlu disikapi dengan bijak.
Ajakan menyebarkan pesan tidak selalu berarti hoaks. Tetapi informasi darurat yang benar pun dapat membutuhkan penyebaran cepat.
Yang perlu diperiksa kebenarannya adalah isi, sumber, tanggal, dan bukti pendukungnya. Jangan menjadikan banyaknya orang yang meneruskan pesan sebagai ukuran kebenaran informasi.
4. Berita lama disajikan seolah-olah baru
Foto bencana, video kecelakaan, pengumuman pemerintah, atau berita tentang suatu kejadian dapat dimunculkan kembali setelah bertahun-tahun.
Ketika tanggal dan konteks aslinya dihilangkan, masyarakat dapat mengira peristiwa tersebut sedang terjadi.
Sebelum membagikan berita, periksa dahulu tanggal publikasi dan waktu terjadinya peristiwa. Cari berita pembanding untuk memastikan apakah informasi tersebut masih relevan.
5. Foto dan video tidak sesuai dengan peristiwa yang diberitakan
Foto asli tidak selalu digunakan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Satu gambar dapat diambil dari peristiwa yang berbeda, dipotong, diedit, atau dipadukan dengan keterangan yang menyesatkan.
Begitu pula video yang hanya menampilkan sebagian dari kejadian dapat memberikan kesan berbeda dari peristiwa secara keseluruhan.
Masyarakat dapat menggunakan pencarian gambar terbalik atau mencari potongan gambar melalui mesin pencari untuk menemukan konteks awalnya. Tetapi, hasil pencarian tetap harus perlu diperiksa karena gambar yang sama bisa digunakan dalam beberapa konteks.
6. Tautan dan situs web mencurigakan
Terdapat sebagian pesan menggunakan alamat situs yang menyerupai media berita, bank, atau lembaga pemerintah.
Ada pula tautan yang mengarahkan pembaca ke halaman yang meminta kata sandi, kode OTP, data pribadi, atau informasi rekening.
Jangan sembarangan mengeklik tautan dari sumber yang tidak dikenal. Periksa alamat situs dengan teliti dan kunjungi situs resmi secara langsung jika ingin memastikan suatu pengumuman.
Perlu diingat, tautan mencurigakan tidak hanya berkaitan dengan hoaks, tetapi juga dapat menjadi sarana penipuan digital.
7. Mengatasnamakan pejabat atau lembaga resmi
Pesan dapat mencatut nama pejabat pemerintah, kepolisian, rumah sakit, bank, atau tokoh masyarakat agar terlihat meyakinkan.
Logo dan foto pejabat juga dapat disalin tanpa izin. Karena itu, keberadaan logo resmi tidak cukup untuk membuktikan bahwa sebuah pengumuman benar-benar dikeluarkan oleh lembaga tersebut.
Periksa saluran komunikasi resmi lembaga yang bersangkutan. Jika perlu, hubungi layanan resminya untuk meminta konfirmasi.
8. Angka, kutipan, dan fakta tidak dapat diverifikasi
Informasi palsu terkadang menggunakan angka yang fantastis, kutipan tanpa nama narasumber, atau klaim ilmiah yang tidak menyertakan bukti.
Misalnya, sebuah pesan menyatakan bahwa suatu produk dapat menyembuhkan semua penyakit, tetapi tidak mencantumkan penelitian yang dapat diperiksa maupun keterangan tenaga kesehatan yang berwenang.
Jangan langsung percaya hanya karena pesan tersebut menggunakan istilah ilmiah, tabel, grafik, atau angka yang tampak meyakinkan. Periksa apakah data dan sumber aslinya benar-benar tersedia.
9. Sengaja memancing emosi pembaca
Informasi yang memicu ketakutan, kemarahan, kebencian, atau kegembiraan berlebihan dapat membuat orang bereaksi sebelum memeriksa kebenarannya.
Sebagian pesan bahkan mendorong pembaca untuk segera menyalahkan pihak tertentu atau mengambil tindakan berdasarkan informasi yang belum teruji kebenarannya.
Ketika menerima pesan yang membuat emosi meningkat, berhentilah sejenak. Baca ulang dengan tenang dan pisahkan fakta yang dapat dibuktikan dari pendapat, dugaan, atau tuduhan.
10. Tidak didukung bukti dari sumber tepercaya
Ciri yang paling penting untuk diperiksa adalah apakah klaim dalam pesan memiliki bukti yang dapat dipertanggungjawabkan?.
Bandingkan informasi dengan pemberitaan media yang kredibel, pengumuman lembaga terkait, dokumen asli, atau situs pemeriksa fakta.
Di Indonesia, masyarakat dapat memanfaatkan layanan berikut:
- Cek Fakta Kompas: https://www.kompas.com/cekfakta
- TurnBackHoax dari Mafindo: https://turnbackhoax.id/
- Cek Fakta Tempo: https://cekfakta.tempo.co/
Tidak ditemukannya suatu informasi di situs pemeriksa fakta bukan berarti informasi tersebut otomatis benar atau salah. Jika bukti masih belum cukup, sebaiknya jangan menyimpulkan terlalu cepat.
Kenali perbedaan hoaks, misinformasi, dan disinformasi
Agar tidak salah menggunakan istilah, masyarakat juga perlu memahami perbedaan berikut.
Hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang disajikan seolah-olah benar.
Misinformasi adalah informasi keliru yang dibagikan tanpa harus disertai niat menipu. Seseorang mungkin meneruskannya karena percaya bahwa informasi tersebut benar.
Disinformasi adalah informasi palsu atau menyesatkan yang sengaja dibuat atau disebarkan untuk menipu, memanipulasi, atau memengaruhi orang lain.
Sementara itu, informasi yang belum terverifikasi adalah informasi yang kebenarannya belum memiliki cukup bukti untuk dipastikan. Informasi seperti ini tidak boleh langsung dinyatakan sebagai hoaks hanya karena belum ditemukan konfirmasinya.
Perbedaan tersebut penting agar masyarakat tidak sembarangan memberi label kepada orang lain.
Langkah sederhana sebelum meneruskan broadcast
Sebelum menekan tombol Forward atau Teruskan, lakukan langkah berikut:
- Baca pesan secara lengkap, bukan hanya judul atau potongan kalimatnya.
- Periksa siapa sumber informasi dan kapan pesan atau berita itu diterbitkan.
- Cari sumber asli, dokumen pendukung, atau pernyataan resmi.
- Periksa foto, video, serta tautan yang menyertai pesan.
- Bandingkan dengan sumber tepercaya lainnya.
- Jika belum yakin, jangan meneruskan pesan tersebut.
- Jika ternyata keliru, pertimbangkan untuk mengoreksi informasi kepada orang atau grup yang sudah menerimanya.
Prinsip sederhana ini dapat membantu mengurangi penyebaran informasi yang salah di lingkungan keluarga, tempat kerja, komunitas, maupun masyarakat luas.
Bijak menggunakan teknologi, bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membuat pembuatan teks, gambar, audio, serta video menjadi semakin mudah. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk tujuan pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan konten palsu yang tampak meyakinkan.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melihat apakah sebuah gambar terlihat nyata atau sebuah tulisan terdengar profesional. Yang lebih penting adalah memeriksa sumber, konteks, dan bukti yang mendukungnya.
Tidak semua informasi yang dibuat dengan bantuan AI adalah hoaks. Sebaliknya, informasi yang dibuat manusia pun dapat mengandung kesalahan atau kesengajaan untuk menyesatkan. Penilaian harus didasarkan pada isi dan bukti, bukan semata-mata pada alat yang digunakan untuk membuatnya.
Menjadi pengguna internet yang cerdas bukan berarti harus mencurigai semua informasi. Kita perlu bersikap terbuka terhadap informasi baru sekaligus kritis dalam memeriksa kebenarannya.
Jangan hanya bertanya siapa yang mengirim berita. Bertanyalah siapa sumbernya, apa buktinya, kapan peristiwanya, dan apakah sumber lain yang tepercaya membenarkannya.
Mari membangun kebiasaan digital yang sehat: saring sebelum berbagi, periksa sebelum percaya, dan koreksi jika ternyata keliru.
PARA INFORMATIKA NEWS (PIN) — Literasi digital untuk masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
(7ok)

Trima kasih infonya...
BalasHapus