Ketika AI Terlihat Seperti Bisa Melihat Kita: Jangan Cepat Menyimpulkan ChatGPT Menyadap
PARA INFORMATIKA NEWS (PIN) — Literasi Digital
Sebuah percakapan antara Deddy Corbuzier dan Aiman Witjaksono tentang kecerdasan buatan (AI) menarik perhatian warganet. Podcast tersebut dirilis pada Januari 2026 dan membahas berbagai sisi AI, termasuk kemampuan serta kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Salah satu bagian yang kemudian ramai dibicarakan adalah ketika Deddy menguji ChatGPT dengan pertanyaan sederhana mengenai pakaian yang dikenakannya. Jawaban AI dianggap sesuai dengan kondisi yang terlihat dalam video. Potongan percakapan itu kemudian beredar luas dan memunculkan pertanyaan: “Apakah ChatGPT bisa melihat kita melalui kamera tanpa kita sadari?”
Pertanyaan tersebut wajar muncul. Namun, dari sudut pandang literasi digital, kita perlu berhati-hati agar tidak langsung mengubah sebuah demonstrasi atau potongan video menjadi kesimpulan bahwa AI pasti sedang menyadap penggunanya.
AI memang bisa melihat gambar—tetapi konteksnya penting
Teknologi AI saat ini memang mampu menganalisis gambar dan video apabila input visual tersebut diberikan kepadanya melalui fitur yang mendukungnya.
Dalam ChatGPT, misalnya, fitur Voice tertentu memungkinkan pengguna membagikan video secara langsung melalui tombol kamera. Pengguna juga dapat memilih berbagi layar melalui kontrol yang tersedia. Artinya, kemampuan AI untuk memproses visual memang nyata, tetapi hal tersebut berbeda dengan kesimpulan bahwa AI secara diam-diam selalu menyalakan kamera pengguna.
Karena itu, ketika melihat demonstrasi AI yang tampaknya “bisa melihat”, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:
“AI bisa melihat saya?”
Tetapi:
“Input visual apa yang sebenarnya diberikan kepada AI dalam percakapan tersebut?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting untuk memahami teknologi.
Jangan tertipu oleh potongan video
Di media sosial, kita sering melihat video berdurasi beberapa detik yang langsung diberi judul sensasional.
Misalnya:
“AI ternyata bisa melihat kita tanpa izin!”
Judul seperti itu tentu menarik perhatian. Tetapi sebelum mempercayainya, kita perlu melihat video lengkapnya.
Apakah kamera sedang aktif?
Apakah video sedang dibagikan?
Apakah sebelumnya ada gambar yang sudah dikirim?
Apakah layar sedang dibagikan?
Apakah ada konteks percakapan yang dipotong?
Atau ada informasi lain yang tidak terlihat dalam potongan video?
Tanpa mengetahui konteks tersebut, kita belum memiliki cukup bukti untuk menarik kesimpulan.
AI juga bisa memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan
Ada hal lain yang perlu dipahami.
AI bukan manusia yang selalu mengetahui kebenaran. AI menghasilkan jawaban berdasarkan informasi dan konteks yang tersedia dalam percakapan serta kemampuan sistem yang digunakan.
Karena itu, jawaban AI yang terdengar yakin tidak otomatis berarti jawabannya benar.
AI dapat memberikan jawaban yang tepat, tetapi AI juga dapat salah.
Inilah sebabnya pengguna tetap perlu melakukan verifikasi, terutama ketika informasi tersebut berkaitan dengan kesehatan, keuangan, hukum, keamanan, atau keputusan penting lainnya.
Jangan takut kepada AI, tetapi jangan pula percaya sepenuhnya
Dua sikap ekstrem sama-sama kurang baik.
Yang pertama adalah:
“Semua AI pasti berbahaya dan menyadap manusia.”
Yang kedua:
“Kalau dijawab AI berarti pasti benar.”
Keduanya sama-sama tidak mendidik.
Sikap yang lebih sehat adalah memahami cara kerja teknologi, membaca izin aplikasi, memperhatikan fitur yang sedang digunakan, dan melakukan verifikasi terhadap informasi yang diberikan AI.
Teknologi tidak perlu ditakuti hanya karena kita belum memahaminya.
Namun, teknologi juga tidak boleh dipercaya secara membabi buta hanya karena terlihat canggih.
Belajar dari podcast Deddy Corbuzier dan Aiman Witjaksono
Apa yang terjadi dalam podcast tersebut justru dapat menjadi bahan pembelajaran literasi digital.
Deddy Corbuzier dan Aiman Witjaksono memperlihatkan kepada publik betapa mengagumkannya kemampuan AI sekaligus betapa mudahnya manusia dibuat terkejut oleh jawaban sebuah sistem AI.
Namun bagi masyarakat, bagian yang lebih penting bukan sekadar rasa “seramnya”.
Yang penting adalah mencari tahu bagaimana jawaban tersebut dapat muncul.
Inilah inti literasi digital:
Jangan berhenti pada “wah, kok bisa?”
Lanjutkan dengan pertanyaan:
“Bagaimana bisa?”
Dari pertanyaan itulah pengetahuan dimulai.
AI perlu dipahami, bukan langsung dicurigai
Perkembangan AI memang membawa manfaat besar sekaligus tantangan baru.
AI dapat membantu membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, membuat gambar, membantu belajar, dan berbagai pekerjaan lainnya.
Namun pengguna tetap harus menjaga privasi, memahami izin aplikasi, tidak sembarangan membagikan data pribadi, dan melakukan pemeriksaan terhadap informasi yang dihasilkan AI.
Dengan demikian, persoalannya bukan “AI baik atau AI jahat?”
Persoalannya adalah:
“Bagaimana manusia menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab?”
Kesimpulan
Viralnya percakapan Deddy Corbuzier dan Aiman Witjaksono tentang AI dapat menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat.
Sebuah jawaban AI yang tampak mengejutkan tidak boleh langsung dijadikan bukti bahwa AI sedang menyadap atau mengawasi kita.
Periksa dahulu konteksnya.
Periksa fitur yang digunakan.
Periksa apakah kamera, video, gambar, atau layar memang sedang dibagikan.
Dan yang tidak kalah penting, jangan mudah percaya pada potongan video yang beredar di media sosial.
Di era AI, kemampuan paling penting bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi.
Kemampuan bertanya, memeriksa, dan berpikir kritis justru semakin penting.
Pesan PIN
Jangan takut menggunakan AI karena belum memahami cara kerjanya.
Jangan pula percaya sepenuhnya kepada AI hanya karena jawabannya terdengar pintar.
Kenali teknologinya, pahami fiturnya, periksa informasinya, dan gunakan dengan bijak.
PARA INFORMATIKA NEWS (PIN)
Literasi digital untuk masyarakat yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Komentar
Posting Komentar