Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

8. Menulis dengan Nurani: Refleksi Seorang Penulis di Era Digital (Seri 8)

Menulis dengan Nurani: Refleksi Seorang Penulis di Era Digital (Seri 8) Pendahuluan Di tengah derasnya arus informasi digital, menulis sering kali berubah menjadi perlombaan: siapa yang paling cepat, paling viral, dan paling banyak dibaca. Namun, di balik angka dan statistik, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: untuk apa kita menulis? Artikel ini bukan panduan teknis, melainkan refleksi tentang nurani—sesuatu yang sering terlupakan, tetapi justru menjadi fondasi utama dalam dunia jurnalisme dan kepenulisan. 1. Menulis Bukan Sekadar Mengisi Ruang Di era digital, ruang publik terasa tak terbatas. Setiap orang bisa menulis kapan saja. Namun, kebebasan ini menuntut kesadaran. Menulis seharusnya: Memberi makna Menambah pemahaman Tidak sekadar memenuhi linimasa Tulisan yang baik lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan. 2. Nurani sebagai Kompas Teknik menulis bisa dipelajari, tetapi nurani tidak bisa digantikan algoritma. Nurani berfungsi sebagai: Pengingat batas Penjaga kejujuran Penimb...

7. Jurnalisme Warga: Peluang dan Tantangan di Era Digital (Seri 7)

  Jurnalisme Warga: Peluang dan Tantangan di Era Digital (Seri 7) Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah jurnalisme. Kini, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen berita, tetapi juga produsen informasi. Fenomena ini dikenal sebagai jurnalisme warga (citizen journalism). Melalui ponsel dan media sosial, siapa pun dapat merekam peristiwa dan membagikannya ke publik. Di satu sisi, ini membuka peluang besar. Di sisi lain, muncul tantangan serius terkait akurasi, etika, dan tanggung jawab. 1. Apa Itu Jurnalisme Warga Jurnalisme warga adalah aktivitas pengumpulan dan penyebaran informasi oleh masyarakat umum, bukan oleh jurnalis profesional. Ciri utamanya: Berangkat dari peristiwa nyata di sekitar Dilakukan oleh warga biasa Dipublikasikan melalui media digital Jurnalisme warga tumbuh karena kedekatan langsung dengan peristiwa. 2. Peluang Jurnalisme Warga Jurnalisme warga membawa beberapa manfaat penting: a. Informasi Lebih Cepat Warga sering berada di lokasi keja...

6. Tips Menjadi Jurnalis (Tingkat Lanjutan): Menjaga Integritas dan Kedalaman di Tengah Tekanan Zaman (Seri 6)

Tips Menjadi Jurnalis (Tingkat Lanjutan): Menjaga Integritas dan Kedalaman di Tengah Tekanan Zaman (Seri 6) Pendahuluan Pada tingkat lanjutan, jurnalisme tidak lagi soal teknik menulis atau kecepatan liputan. Di tahap ini, seorang jurnalis diuji oleh integritas, kedalaman berpikir, dan keteguhan sikap. Tekanan bisa datang dari berbagai arah: kepentingan, opini publik, algoritma, hingga popularitas. Artikel ini membahas bagaimana jurnalis tingkat lanjutan menjaga kualitas dan martabat profesinya. 1. Menempatkan Kebenaran di Atas Segalanya Jurnalis tingkat lanjutan memahami bahwa: Tidak semua fakta menyenangkan Tidak semua kebenaran populer Tidak semua berita disukai semua pihak Namun, jurnalisme sejati berdiri pada prinsip:  Kebenaran tidak boleh dikompromikan demi kenyamanan. Keberanian moral menjadi fondasi utama. 2. Membaca Konteks, Bukan Sekadar Peristiwa Di tingkat lanjutan, jurnalis tidak berhenti pada apa yang terjadi, tetapi menggali: Pola Dampak jangka panjang Keterkaitan a...

5. Perbedaan Jurnalis, Blogger, dan Content Creator (Seri 5)

Perbedaan Jurnalis, Blogger, dan Content Creator (Seri 5) Pendahuluan Di era digital, batas antara jurnalis, blogger, dan content creator sering terlihat samar. Banyak orang menulis, memotret, membuat video, lalu menyebut dirinya jurnalis. Di sisi lain, ada juga yang bekerja jurnalistik tetapi aktif sebagai blogger atau kreator konten. Agar tidak rancu, penting memahami perbedaan peran, tanggung jawab, dan pendekatan dari ketiganya. Artikel ini bertujuan meluruskan pemahaman tersebut secara sederhana dan proporsional. 1. Jurnalis Jurnalis adalah orang yang bekerja mengumpulkan, mengolah, dan menyampaikan informasi berdasarkan prinsip jurnalistik. Ciri utama jurnalis: Berbasis fakta dan verifikasi Mengutamakan kepentingan publik Terikat kode etik jurnalistik Bertanggung jawab atas dampak informasi Jurnalis tidak bebas menulis sesuka hati. Ia bekerja dengan disiplin, etika, dan tanggung jawab sosial. 2. Blogger Blogger adalah penulis yang mengelola blog pribadi atau kolektif dan menulis ...

4. Etika Jurnalisme di Era Digital (Seri 4)

Etika Jurnalisme di Era Digital (Seri 4) Pendahuluan Perkembangan teknologi digital membuat informasi menyebar sangat cepat. Media sosial, blog, dan platform daring memberi ruang luas bagi siapa saja untuk menyampaikan informasi. Namun, kecepatan ini juga membawa risiko besar jika tidak dibarengi dengan etika jurnalisme. Di era digital, etika bukan semakin longgar, justru semakin penting. Artikel ini membahas prinsip etika jurnalisme yang perlu dipahami dan dijaga di tengah derasnya arus informasi. 1. Kecepatan Tidak Boleh Mengalahkan Kebenaran Salah satu tantangan utama jurnalisme digital adalah tuntutan untuk cepat. Namun, jurnalis harus selalu ingat: Lebih baik terlambat daripada salah. Prinsip da sar: Verifikasi tetap wajib Jangan tergoda “viral” Kebenaran lebih penting dari jumlah klik 2. Verifikasi di Tengah Banjir Informasi Era digital sekarang banyak muncul: Hoaks Informasi setengah benar Potongan konteks Etika jurnalisme menuntut jurnalis untuk selalu: Memeriksa sumber asli Me...

3. Tips Menjadi Jurnalis (Tingkat Menengah): Meningkatkan Kualitas Liputan dan Tulisan (Seri 3)

  Tips Menjadi Jurnalis (Tingkat Menengah): Meningkatkan Kualitas Liputan dan Tulisan (Seri 3) Pendahuluan Setelah memahami dasar jurnalisme dan menghindari kesalahan umum, langkah berikutnya adalah meningkatkan kualitas. Pada tingkat menengah, seorang jurnalis tidak lagi sekadar menulis apa yang terjadi, tetapi mulai memahami konteks, dampak, dan makna sebuah peristiwa. Artikel ini ditujukan bagi jurnalis pemula yang telah berlatih dan ingin naik kelas secara bertahap. 1. Memperdalam Riset dan Latar Belakang Jurnalis tingkat menengah tidak berhenti pada permukaan peristiwa. Ia belajar menjawab pertanyaan: Mengapa peristiwa ini penting? Apa latar belakangnya? Apa dampaknya bagi publik? Riset sederhana bisa dilakukan dengan: Membaca arsip berita terkait Memahami data dasar Menggali konteks sosial atau kebijakan Berita yang baik memberi pemahaman, bukan sekadar informasi. 2. Mengelola dan Menyeimbangkan Sumber Pada tahap ini, jurnalis mulai dituntut menyajikan liputan yang berimbang....

2. Kesalahan Umum Jurnalis Pemula yang Perlu Dihindari (Seri 2)

  Kesalahan Umum Jurnalis Pemula yang Perlu Dihindari (Seri 2) Pendahuluan Setiap jurnalis hebat pernah menjadi pemula. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Namun, dalam dunia jurnalisme, kesalahan yang tidak disadari dan diulang bisa berdampak pada hilangnya kepercayaan publik. Artikel ini membahas kesalahan umum jurnalis pemula agar dapat dihindari sejak awal, sehingga proses belajar berjalan lebih sehat dan bertanggung jawab. 1. Mencampuradukkan Fakta dan Opini Kesalahan paling sering dilakukan pemula adalah menyisipkan pendapat pribadi ke dalam berita. Contoh sederhana: Fakta: “Harga beras naik 10 persen.” Opini: “Kenaikan ini sangat menyengsarakan rakyat.” Dalam jurnalisme dasar, fakta harus berdiri sendiri. Opini hanya boleh muncul pada rubrik opini atau esai, bukan berita. 2. Terlalu Cepat Menyimpulkan Pemula sering tergoda untuk cepat menyimpulkan peristiwa tanpa data lengkap. Padahal, tugas jurnalis adalah menyajikan apa yang diketahui, bukan menebak apa yang belum...

1. Tips Menjadi Jurnalis : Panduan Dasar bagi Pemula (Seri 1)

Tips Menjadi Jurnalis : Panduan Dasar bagi Pemu la (Seri 1) Pendahuluan Menjadi jurnalis bukan semata-mata bekerja di media besar atau memiliki kartu pers. Pada dasarnya, jurnalisme adalah cara berpikir, cara melihat peristiwa, dan cara menyampaikan fakta kepada publik secara jujur dan bertanggung jawab. Di era digital, siapa pun dapat belajar menjadi jurnalis. Namun, tanpa pemahaman dasar, informasi mudah berubah menjadi opini, asumsi, atau bahkan disinformasi. Oleh karena itu, artikel ini disusun sebagai panduan dasar bagi pemula yang ingin memahami kejurnalistikan dari fondasinya. 1. Memahami Apa Itu Jurnalis Jurnalis adalah orang yang: Mencari fakta Melihat peristiwa Mengolah informasi Menyampaikannya kepada publik secara bertanggung jawab Seorang jurnalis bukan pencipta cerita, melainkan penyampai kenyataan. Tugas utamanya membantu masyarakat memahami apa yang benar-benar terjadi. 2. Sikap Dasar yang Harus Dimiliki Jurnalis Pemula Sebelum menguasai teknik menulis, jurnalis pemula ...

πŸ’° Mengenal Cakra Corevia, Aplikasi Digital yang Ramai Dibicarakan Publik

  Mengenal Cakra Corevia, Aplikasi Digital yang Ramai Dibicarakan Publik Dalam beberapa waktu terakhir, nama Cakra Corevia ramai diperbincangkan di berbagai kanal percakapan publik, terutama media sosial dan grup percakapan daring. Aplikasi ini muncul di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan digital, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan aktivitas keuangan dan komunitas daring. Lalu, apa sebenarnya Cakra Corevia? Dan mengapa publik perlu mencermatinya dengan sikap tenang serta rasional? Apa Itu Cakra Corevia? Cakra Corevia dikenal sebagai sebuah aplikasi digital berbasis komunitas yang menawarkan sistem partisipasi pengguna melalui skema tertentu. Dalam praktiknya, pengguna diminta mendaftar, membuat akun, lalu mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan oleh pengelola aplikasi. Sebagaimana banyak aplikasi digital lain yang bermunculan, Cakra Corevia hadir dengan narasi inovasi, kebersamaan, dan peluang. Namun hingga kini, informasi resmi yang terverifikasi seca...

πŸ›– PANDUAN LANGKAH DEMI LANGKAH MEMBUKA WARUNG MAKAN DI DESA UNTUK PEMULA

PANDUAN LANGKAH DEMI LANGKAH MEMBUKA WARUNG MAKAN DI DESA UNTUK PEMULA Membuka warung makan di desa adalah salah satu usaha rakyat yang paling realistis, tahan banting, dan terus dibutuhkan. Usaha ini bisa dimulai dari rumah sendiri, modal kecil, dan berkembang pelan tapi pasti. Panduan ini disusun langkah demi langkah agar mudah dipahami oleh pemula. 1. Menata Niat dan Tujuan Usaha Sebelum memulai, luruskan dulu niatnya untuk apa membuka warung makan : Untuk penghasilan utama atau tambahan? Untuk jangka panjang atau coba-coba? Dikelola sendiri atau dibantu keluarga? Warung makan yang awet biasanya lahir dari niat serius dan siap tekun, bukan sekadar ikut-ikutan. 2. Mengamati Lingkungan Sekitar Ini langkah penting tapi sering disepelekan. Perhatikan: Ada berapa warung makan di sekitar? Menu apa yang paling laku? Jam ramai pembeli (biasanya pagi & siang) Tips praktis: Beli dan makan di warung tetangga, sambil mengamati kebiasaan pembeli. 3. Menentukan Konsep Warung Untuk pemula, jan...

Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Wilayah DIY dan Sekitarnya

Gambar
  Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Wilayah DIY dan Sekitarnya BANTUL – Gempa bumi dengan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (25/1/2026) pukul 15.51 WIB. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut, sekitar 106 kilometer barat daya Gunungkidul, pada koordinat 8,88 Lintang Selatan dan 110,24 Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer. Sumber : BMKG (2026) BMKG mencatat gempa tersebut dirasakan pada skala II–III MMI di sejumlah wilayah, antara lain Bantul, Kota Yogyakarta, Gunungkidul, Pacitan, Sleman, dan Kulon Progo. Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh sebagian warga, namun tidak menimbulkan kerusakan bangunan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut. BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami dan mengimbau masyarakat tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari BMKG. (7ok/PIN)

Warga Pepe RT 01 Mengecat Pagar Bumi Makam Jati Sambut Bulan Ruwah

Gambar
  Warga Pepe RT 01 Mengecat Pagar Bumi Makam Jati Sambut Bulan Ruwah BANTUL – Menyongsong bulan Ruwah 1959 Jawa atau Syakban 1447 Hijriah, warga Pepe RT 01, Kalurahan Trirenggo, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, melaksanakan kegiatan pengecatan pagar bumi Makam Jati, Minggu (25/01). Gambar pelaksanaan pengecatan Kegiatan tersebut dilakukan secara gotong royong oleh warga, terutama bapak-bapak dan pemuda, dipimpin Ketua RT 01 Heru Prasetyo. Hadir pula Maryoto, anggota Badan Musyawarah Kalurahan (Bamuskal) Trirenggo. Selain pengecatan pagar, warga juga membersihkan rumput dan area di dalam kompleks makam. Sementara itu, ibu-ibu menyiapkan makanan ringan dan minuman. Gambar membersihkan rumput Heru Prasetyo mengatakan, kegiatan ini rutin dilakukan setiap memasuki bulan Ruwah. “Pekerjaan dimulai pukul 08.00 WIB dan selesai sekitar pukul 11.00 WIB, dengan penggunaan cat sebanyak 10 kilogram,” ujarnya. Maryoto menambahkan, setelah pengecatan pagar bumi, dire...

πŸ”— Mengapa Warung Desa Tidak Pernah Benar-Benar Punah (Seri 5 – Penutup)

  Mengapa Warung Desa Tidak Pernah Benar-Benar Punah (Seri 5 – Penutup) (Pelajaran Ketahanan dari Usaha yang Terlihat Sederhana) Sejak dulu hingga sekarang, warung desa berkali-kali diprediksi akan hilang. Mulai dari hadirnya supermarket, minimarket berjaringan, hingga belanja online—semuanya dianggap sebagai “akhir” bagi warung tradisional. Namun kenyataannya, warung desa tidak pernah benar-benar punah. Mengapa? 1. Warung Desa Tumbuh dari Kebutuhan Nyata Warung desa lahir bukan dari tren, tetapi dari kebutuhan sehari-hari. Ia muncul di tempat dan waktu yang tepat: dekat rumah, mudah dijangkau, dan melayani hal-hal kecil yang sering dibutuhkan mendadak. Selama manusia masih hidup berdampingan dan punya kebutuhan harian, warung desa akan selalu relevan. 2. Warung Desa Tidak Bergantung pada Sistem yang Rumit Berbeda dengan bisnis modern yang sangat tergantung pada: rantai pasok panjang, sistem digital, kebijakan pusat, warung desa berdiri di atas sistem sederhana: stok secukupnya, pe...

πŸ”— Warung Desa sebagai Penjaga Ekonomi dan Harmoni Sosial (Seri 4)

  Warung Desa sebagai Penjaga Ekonomi dan Harmoni Sosial (Seri 4) (Ketika Warung Bukan Sekadar Tempat Jual Beli) Jika pada Seri 3 kita membahas tips agar warung desa tetap ramai dikunjungi pelanggan, maka pada seri ini kita melangkah sedikit lebih dalam: peran warung desa dalam menjaga ekonomi kecil sekaligus harmoni sosial di lingkungan sekitarnya. Warung desa bukan hanya unit usaha. Ia adalah simpul kehidupan. 1. Warung Desa sebagai Penyangga Ekonomi Kecil Bagi banyak keluarga, warung desa adalah: sumber penghasilan utama, tambahan nafkah, atau tabungan jangka panjang. Warung memberi kesempatan ekonomi tanpa syarat rumit: tidak perlu modal besar, tidak perlu ijazah, cukup kejujuran dan ketekunan. Di saat krisis atau paceklik, warung desa sering justru tetap bertahan, karena melayani kebutuhan paling dasar masyarakat. 2. Warung sebagai Tempat Informasi dan Komunikasi Sebelum media sosial ramai, warung desa sudah lebih dulu menjadi pusat informasi: kabar tetangga, pengumuman hajata...

πŸ“š A Quarter Century After Y2K

A Quarter Century After Y2K: Quiet Lessons Behind the Global Anxiety of 2000 At the turn of the year 2000, the world briefly held its breath. Behind the headlines, countdown clocks, and public anxiety, there was quieter work taking place—lines of code reviewed, systems tested, and responsibilities carried by people who rarely appeared in the spotlight. This series is a reflective account written twenty-five years after Y2K by a practitioner who experienced that moment firsthand, not as a spectator, but as part of the everyday, often invisible labor that kept technology—and trust—intact. A Quarter Century After Y2K is a reflective series on the global unease at the turn of the year 2000, written twenty-five years later by a direct computer practitioner. The series presents Y2K as a quiet lesson on humanity’s dependence on technology, invisible labor, and responsibility across generations. πŸ‘‰ Start Reading the Series 1. Remembering Y2K: When the World Held Its Breath (Series 1) 2. ...

Y2K, BIOS, and the Real Test on Physical Machines (Series-3)

Y2K, BIOS, and the Real Test of Physical Machines (Series-3) While global discussions of Y2K often sounded abstract, at the machine level the issue was very real. One critical point—frequently overlooked by casual users—was the BIOS. The BIOS—Basic Input/Output System—is the most fundamental layer that comes alive when a computer powers on. It is responsible for recognizing time, date, and hardware, preparing the stage for the operating system. In the 1990s, many BIOS implementations were never designed to move beyond the year 1999. For some, Y2K testing at the software level was sufficient. For practitioners, however, the question was sharper: what if the machine itself misinterprets time from the very beginning? This is where the real test began. Changing the date in the BIOS to the year 2000 was not a trivial action. Risks were always present. A BIOS failure could cause a computer to: misidentify hardware, refuse to boot, or permanently store corrupted time data. I clearly remem...

Y2K in Indonesia: Between Technical Readiness and a Relaxed Culture (Series-4)

Y2K in Indonesia: Between Technical Readiness and a Relaxed Culture (Series-4) Y2K in Indonesia carried a different tone compared to industrialized nations. Not because we were more prepared, nor because we lagged behind, but because of a distinctive approach to risk. In many institutions, Y2K was seen as a technical issue that needed “reasonable anticipation.” There was no widespread panic. No massive stockpiling. Partly due to limited information, and partly due to a cultural tendency to remain calm in the face of uncertain events. Yet beneath this calm surface, real work was being done. In computer training centers, educational institutions, and technical units, Y2K discussions took place. Systems were checked. Dates and clocks were tested. Legacy applications were reviewed. Often without large budgets, but guided by practical judgment and hands-on experience. I witnessed how this approach functioned in practice. Not every system was modernized. Not every line of code rewritten. The...

After Y2K: Quiet Lessons for Today’s Digital World (Series-5)

After Y2K: Quiet Lessons for Today’s Digital World (Series-5) Y2K is long past. Calendars have turned, and technology has advanced far beyond what we imagined in the late 1990s. Yet precisely because of this progress, the lessons of Y2K have become even more relevant—not as an event, but as a pattern. Today’s digital world is vastly more complex. Systems are interconnected across borders, platforms, and interests. A small error no longer stops at a single machine—it can cascade to millions of users within seconds. Yet human responses to risk remain remarkably familiar. The same three patterns persist: excessive panic, dismissive skepticism, and quiet work that rarely receives attention. The difference now is the scale of what is at stake. Y2K taught us that digital crises do not always arise from malicious intent or external attacks. More often, they emerge from outdated assumptions, inherited code that no one fully understands, and excessive confidence that “everything will be fine.” ...

Y2K in the Real World: Panic, Skepticism, and Quiet Work (Series-2)

Y2K in the Real World: Panic, Skepticism, and Quiet Work (Series-2) If Series 1 described a world holding its breath, Series 2 focuses on human responses. Y2K was not only a technological issue—it was a social phenomenon. Reactions varied widely, and within that diversity lay its true complexity. On one end, there was panic. Media outlets across the globe presented worst-case scenarios: crashing airplanes, frozen banking systems, power outages, even failures in defense infrastructure. Some people stockpiled supplies, withdrew cash, and prepared for a “digital end of the world.” On the opposite end stood the skeptics. They viewed Y2K as an exaggerated issue, amplified by the technology industry to justify projects and budgets. “If it’s just a date problem, why all the fuss?” was a common refrain. Between these extremes existed a third group—rarely visible: the quiet workers. Programmers, technicians, system analysts, and computer instructors who labored without headlines. They did not d...

Remembering Y2K: When the World Held Its Breath (Series-1)

Remembering Y2K: When the World Held Its Breath (Series-1) As the end of 1999 approached, the world was not merely preparing to welcome a new number on the calendar. It was holding its breath. The Y2K issue—the Year 2000 Problem—echoed from technical circles into public discourse, from professionals to everyday citizens. At its core, the problem seemed simple: many legacy computer systems stored years using only two digits. “99” would become “00”. The concern was not cosmetic, but logical. Would “00” be interpreted as 1900? Would systems fail to process time correctly? Would data become corrupted? To those outside the technology field, such worries often seemed exaggerated. But for practitioners, they were entirely rational. By that time, computers already controlled critical sectors: banking, aviation, electricity, healthcare, and government systems. I clearly remember how discussions about Y2K extended beyond offices and classrooms—into media coverage, seminars, and everyday conversa...

🐦 Lima tahun bersama suara pagi, Perkututku

Gambar
Lima tahun bersama suara pagi, Perkututku Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk sedulur Kutut Mania , para pecinta perkutut yang memahami bahwa suara bukan sekadar bunyi, melainkan napas kesabaran, ketekunan, dan rasa tenteram. Semoga kisah sederhana ini bisa menjadi pengingat, bahwa di balik setiap manggung pagi, selalu ada ikatan batin antara manusia dan perkutut yang merawatnya. Ada makhluk kecil yang tidak pernah menuntut apa pun dari hidup saya, selain satu hal sederhana: kesetiaan waktu . Setiap pagi , antara pukul 05.00 hingga 07.00 , ia hadir tanpa absen. Bukan sebagai alarm, bukan pula sebagai hiburan, melainkan sebagai penanda bahwa hari layak dimulai dengan tenang . Perkutut itu —berkaturanggan Gedhong Mengo — bukan perkutut istimewa karena harga atau silsilah, melainkan karena irama hidupnya selaras dengan irama hati saya . Ia berasal dari tangkapan liar. Dulu satu keluarga: dua piyik, satu induk betina, satu jantan. Dua piyik mati ketika mulai ngeriwik—fase pal...