π¦ Lima tahun bersama suara pagi, Perkututku
Lima tahun bersama suara pagi, Perkututku
Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk sedulur Kutut Mania, para pecinta perkutut yang memahami bahwa suara bukan sekadar bunyi, melainkan napas kesabaran, ketekunan, dan rasa tenteram. Semoga kisah sederhana ini bisa menjadi pengingat, bahwa di balik setiap manggung pagi, selalu ada ikatan batin antara manusia dan perkutut yang merawatnya.
Ada makhluk kecil yang tidak pernah menuntut apa pun dari hidup saya, selain satu hal sederhana: kesetiaan waktu.
Setiap pagi, antara pukul 05.00 hingga 07.00, ia hadir tanpa absen. Bukan sebagai alarm, bukan pula sebagai hiburan, melainkan sebagai penanda bahwa hari layak dimulai dengan tenang.
Perkutut itu—berkaturanggan Gedhong Mengo— bukan perkutut istimewa karena harga atau silsilah, melainkan karena irama hidupnya selaras dengan irama hati saya.
Ia berasal dari tangkapan liar. Dulu satu keluarga: dua piyik, satu induk betina, satu jantan. Dua piyik mati ketika mulai ngeriwik—fase paling rapuh. Induk betina menyusul karena keloloten pinang. Tinggallah satu jantan. Dialah yang kemudian menemani saya paling lama.
Lima tahun. Bukan waktu singkat bagi seekor burung. Dan bukan waktu singkat pula bagi manusia yang mendengarkan suaranya setiap hari.
Saya pernah berpikir: jika ia lepas dari sangkar, saya tidak akan terlalu sedih. Selama ia masih hidup, selama suaranya masih terdengar dari kejauhan, itu sudah cukup.
Ternyata yang paling menyakitkan bukanlah sangkar yang kosong, melainkan pagi yang tiba tanpa suara.
Perkutut ini bukan yang pertama dalam hidup saya. Perkutut pertama mati tertimpa reruntuhan rumah saat gempa bumi 27 Mei 2006. Sejak itu saya belajar, bahwa burung-burung ini sering menjadi saksi peristiwa besar yang tidak mereka pahami, namun harus mereka tanggung akibatnya.
Kini saya masih memelihara perkutut, merpati, dan puter. Sebagian hasil peranakan. Sebagian titipan hidup yang harus dijaga. Namun yang satu ini— yang lima tahun menemani pagi saya— telah pergi dengan cara yang tidak saya kehendaki. Dan saya tidak menyangkal: ada kelalaian di sana.
Kesalahan itu akan saya perbaiki. Tapi kehilangan ini akan saya simpan.
Sekarang yang tersisa hanyalah rekaman suara, video sederhana yang saya ambil beberapa bulan lalu. Cukup. Lebih dari cukup.
Karena kenangan terbaik bukan tentang memiliki, melainkan tentang pernah ditemani.
Terima kasih, untuk setiap pagi yang pernah kau isi. Untuk setiap sunyi yang kau jaga agar tetap ramah. Untuk lima tahun kebersamaan yang tak bisa diulang, namun tak akan hilang.
Suaramu mungkin telah berhenti, namun jejak waktumu tetap hidup di ingatan saya.
Catatan Refleksi
Tulisan ini saya buat bukan untuk meratapi kehilangan, melainkan sebagai ucapan terima kasih.
Lima tahun ditemani seekor perkutut mengajarkan saya satu hal sederhana: bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari suara yang setia hadir di waktu yang sama setiap hari.
Saya menuliskan ini agar tidak lupa, bahwa pernah ada seekor burung yang tanpa sadar ikut membentuk ritme hidup saya.
Semoga tulisan ini juga menjadi pengingat bagi sesama pecinta perkutut: bahwa yang kita rawat bukan hanya burungnya, melainkan keheningan, kesabaran, dan rasa syukur di dalam diri kita.
Salam Kung Mania
Pepe RT.01 Trirenggo Bantul Yogyakarta
Para Informatika News (PIN)

Komentar
Posting Komentar